
Bangsa Yahudi tercerai-berai membentuk diaspora di seluruh dunia, terutama Eropa dan Afrika Utara, sejak dihancurkannya Bait Suci Kedua oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 70 M sebagai akibat langsung dari pemberontakan besar bangsa Yahudi terhadap kekuasaan Romawi di wilayah Yudea, yang dikenal sebagai Perang Yahudi-Romawi Pertama (66–73 M). Ketegangan sudah terjadi sejak tindakan-tindakan keagamaan Romawi dipandang menghina keyakinan Yahudi.
Kekaisaran Romawi menganggap pemberontakan ini sebagai ancaman serius. Kaisar Nero mengirim jenderal Vespasianus dan kemudian putranya, Titus, untuk menumpasnya. Pada tahun 70 M, pasukan Romawi dipimpin Titus mengepung Jerusalem. Setelah pertempuran sengit dan kelaparan hebat di dalam kota, pasukan Romawi akhirnya menaklukkan Jerusalem dan menghancurkan Bait Suci sebagai simbol penghapusan pusat spiritual dan nasional Yahudi.
LAHIR DAN BERKEMBANGNYA ANTISEMIT: YAHUDI PEMBUNUH YESUS
Sejak penghancuran Bait Suci Kedua tersebut orang Yahudi semakin dianggap sebagai kaum sulit diatur karena menolak mengadopsi budaya politeistik Romawi. Bahkan Kekristenan awal yang semula muncul dari tradisi Yahudi (Yesus orang Yahudi) juga perlahan-lahan menjelma menjadi identitas tersendiri yang lantas menuduh Yahudi bertanggung jawab atas kematian Yesus.
Agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi abad ke-4 di bawah Kaisar Konstantinus. Sejak itu kebijakan negara dan gereja bersatu dalam memperlakukan Yahudi sebagai kaum “pembunuh Kristus”. Yahudi dilarang memiliki tanah, dilarang menjadi anggota serikat pekerja, dan hanya diperbolehkan bekerja di bidang keuangan (ini kelak menjadi stereotip Yahudi: mata duitan).
Fenomena pembunuhan dan pengusiran massal terhadap kaum Yahudi (disebut pogrom) terjadi di Inggris (1290), Prancis (1306), dan Spanyol (1492). Kekerasan terhadap Yahudi juga terjadi selama Perang Salib dan wabah Black Death (mereka dituduh meracuni sumur).
Pada abad moderen awal (16-18 M) muncul antisemitisme dalam konteks rasial dan kultural. Tokoh seperti Martin Luther King menulis pamflet anti-Yahudi yang sangat tajam. Di beberapa negara Eropa Timur, khususnya Kekaisaran Rusia dan Polandia, Yahudi hidup dalam sistem pemisahan komunitas (ghetto) dan pogrom pun terjadi lagi di sana.
Abad ke-19 dan awal abad ke-20 antisemitisme menjadi semakin rasial, bukan lagi sekedar urusan agama, terutama setelah Revolusi Prancis membuka jalan bagi emansipasi Yahudi. Reaksi konservatif terhadap perubahan ini melahirkan teori konspirasi seperti The Protocols of the Elders of Zion.
Selain itu di Jerman, Prancis, dan Austria, muncul partai dan media yang secara terbuka menyebarkan ide antisemit. Contoh terkenal adalah Kasus Dreyfus di Prancis (1894), seorang perwira Yahudi dituduh berkhianat tanpa bukti kuat.
Pada abad ke-20, Holocaust (1933–1945) menjadi puncak antisemit. Ide antisemitisme rasial mencapai ekstrem dalam Nazisme Hitler yang melihat Yahudi sebagai bukan manusia dan ancaman bagi “kemurnian ras Arya”. Antisemitisme menjadi kebijakan negara di Jerman Nazi, yang memuncak pada Holocaust: pembantaian sistematis sekitar enam juta Yahudi Eropa.
LAHIRNYA ZIONISME.
Zionisme berasal dari kata Zion, nama bukit tempat Jerusalem berada. Lahir pada akhir abad ke-19, Zionisme bukan sekadar gerakan politik tetapi juga menjadi respon terhadap penindasan dan krisis identitas etnis Yahudi di berbagai belahan dunia tersebut di atas.
Eropa abad ke-19 menyaksikan kebangkitan nasionalisme di berbagai kelompok etnis. Orang Yahudi yang tersebar dan sering tidak diterima sebagai warga negara penuh mulai terinspirasi oleh ide bahwa mereka pun berhak memiliki negara sebagai sebuah bangsa.
Tapi pada saat yang sama gelombang antisemit modern menyapu Eropa, mulai dari pengucilan sosial hingga kekerasan dan pengusiran. Kasus Dreyfus Affair di Prancis 1894 menjadi titik balik bagi banyak intelektual Yahudi. Theodor Herzl, jurnalis Austria keturunan Yahudi, dalam bukunya Der Judenstaat (Negara Yahudi) tahun 1896, mengatakan bahwa satu-satunya solusi bagi “masalah Yahudi” adalah pembentukan sebuah negara Yahudi berdaulat. Inilah yang menjadi titik awal gerakan ideologis Zionisme.
Pada tahun 1897, Herzl memimpin Kongres Zionis Pertama di Basel, Swiss. Di sinilah untuk pertama kalinya gerakan Zionisme dideklarasikan secara resmi dengan tujuan: “mendirikan rumah bagi bangsa Yahudi di Palestina yang dijamin oleh hukum internasional.”
Tapi saat itu kawasan Palestina dan sebagian besar Timur Tengah termasuk Suriah, Irak, Jazirah Arab (termasuk Hijaz dan Yaman), Mesir, dan bagian dari Afrika Utara seperti Aljazair, Tunisia, dan Libya adalah wilayah jajahan Turki Utsmani. Palestina di bawah Utsmani sudah dihuni oleh mayoritas Arab Palestina, meskipun demikian para pendukung Zionisme melihat tanah tersebut sebagai tanah historis yang dijanjikan. Dari sinilah kemudian muncul berbagai inisiatif migrasi Yahudi ke Palestina yang disebut Zionis.
Sementara itu, penduduk Arab Palestina mulai mengkhawatirkan gelombang migrasi Yahudi yang meningkat sejak awal abad ke-20. Inilah yang kemudian menjadi akar konflik panjang yang masih berlangsung hingga hari ini.


