
Ketika dunia menyaksikan horor genosida Ethnic Cleansing Bosnia di Srebrenica tahun 1995, banyak yang mengira itu hanyalah akibat dari konflik politik lokal sesaat. Padahal, luka itu telah mengendap sejak berabad-abad sebelumnya di masa penjajahan Turki Utsmani.
Bosnia: Negeri Tiga Identitas
Bosnia dan Herzegovina, sebuah wilayah kecil di Balkan, sejak dulu menjadi titik temu dan percampuran budaya. Di sanalah tiga kelompok utama hidup berdampingan: Muslim (Bosniak), Kristen Ortodoks (Serbia), dan Katolik (Kroasia). Namun harmoni itu tidak selalu damai. Sejarah panjang yang melibatkan penjajahan, penindasan, dan dominasi agama membentuk dasar konflik yang meledak pada dekade 1990-an.
Ethnic Cleansing Bosnia Berakar Pada Masa Penjajahan Utsmani
Sejak dijajah oleh Kekaisaran Utsmani pada abad ke-15, Islam mulai menyebar masuk Bosnia. Banyak penduduk lokal yang beralih memeluk Islam, terutama karena terpikat peluang sosial-ekonomi yang lebih besar di bawah sistem kekuasaan Utsmani.
Meski masyarakat hidup berdampingan, struktur sosial yang dibentuk berdasarkan agama mulai menciptakan ketimpangan. Muslim Bosnia memiliki posisi istimewa dalam sistem kekuasaan Utsmani, sementara umat Kristen Ortodoks dan Katolik menjadi kelompok yang terpinggirkan.
Ketika Kekaisaran Utsmani melemah, ketegangan mulai muncul, dan perasaan dendam perlahan tumbuh.
Ketegangan Meningkat: Nasionalisme dan Imperialisme
Abad ke-19 menyaksikan kebangkitan nasionalisme di kawasan Balkan. Serbia dan Kroasia mulai menyusun identitas nasional mereka, sering kali dengan narasi anti-Utsmani dan anti-Muslim.
Tahun 1878, Bosnia jatuh ke tangan Kekaisaran Austria-Hongaria. Bukannya meredam konflik, kekuasaan baru ini malah memperkeruh keadaan. Muslim kehilangan pengaruh politiknya, sementara Serbia dan Kroasia bersaing untuk menguasai narasi etnis dan nasional.
Luka Mendalam di Dua Perang Dunia
Pembunuhan Archduke Franz Ferdinand, pewaris takhta Austria-Hungaria, oleh pemuda Serbia Bosnia di Sarajevo menjadi pemicu utama Perang Dunia I. Setelahnya, Bosnia dimasukkan ke dalam Kerajaan Yugoslavia yang didominasi Serbia.
Pada Perang Dunia II, Bosnia menjadi ajang pertumpahan darah. Rezim fasis Ustasa Kroasia membantai ribuan warga Serbia. Sebagai balasan, kelompok Chetnik Serbia melakukan kekerasan terhadap Muslim Bosnia. Ini bukan lagi perang antarnegara, tapi pertarungan brutal berbasis identitas.
Kekerasan ini tak pernah dilupakan, tapi bergulir menjadi bahan bakar konflik di masa mendatang.
Yugoslavia dan Damai Semu
Setelah Perang Dunia II, Yugoslavia dibentuk di bawah kepemimpinan tangan besi komunis Josip Broz Tito. Tito berhasil menyatukan berbagai etnis dalam satu negara sosialis. Identitas etnis ditekan demi ideologi persatuan nasional.
Namun, setelah Tito meninggal pada 1980, identitas-identitas yang ditekan itu kembali mencuat ke permukaan. Krisis ekonomi dan runtuhnya blok Soviet mempercepat disintegrasi Yugoslavia.
Bosnia Merdeka, Perang Meletus
Bosnia menyatakan kemerdekaan pada 1992, namun tidak semua kelompok menyambutnya. Etnis Serbia Bosnia, yang ingin tetap bersama Serbia, melancarkan perang. Didukung penuh oleh pemerintah Serbia di Beograd, mereka memulai kampanye yang kelak dikenal sebagai ethnic cleansing atau pembersihan etnis.
Tindakan ini mencakup pemerkosaan sistematis, pembantaian massal, pengusiran besar-besaran, dan penghancuran masjid serta simbol-simbol Islam.
Srebrenica: Luka yang Tak Terlupakan
Juli 1995, dunia menyaksikan konflik Balkan sebagai salah satu genosida paling mengerikan di Eropa pasca-Holocaust. Di kota kecil bernama Srebrenica, yang seharusnya menjadi “zona aman” PBB, lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dibantai dalam waktu beberapa hari.
Pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Jenderal Ratko Mladić melakukan pembantaian ini tanpa perlawanan berarti dari pasukan perdamaian PBB.
Keadilan Datang Terlambat
Setelah perang usai lewat Perjanjian Dayton pada akhir 1995, dunia internasional membentuk Mahkamah Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY). Di sana, tokoh-tokoh seperti Radovan Karadžić dan Ratko Mladić akhirnya dijatuhi hukuman atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.
Namun bagi sebagian warga Bosnia, terutama para penyintas, keadilan ini terasa datang terlambat, dan terlalu sedikit.
Luka Sejarah Masih Terasa
Meski perang telah lama usai, Bosnia tetap terpecah secara politik dan sosial. Luka sejarah masih terbuka, dan narasi yang saling menyalahkan terus dilestarikan oleh sebagian elite politik. Banyak anak muda yang tumbuh dalam sistem pendidikan dan media yang berbeda berdasarkan etnis masing-masing.
Tragedi Bosnia menjadi pelajaran pahit bahwa identitas yang terpolarisasi, ditambah propaganda dan kekuasaan, bisa menjelma menjadi bencana kemanusiaan mengerikan.
Referensi:
- Malcolm, Noel. Bosnia: A Short History. New York University Press, 1994.
- BBC News. “The Srebrenica massacre: What happened and why?“, 11 Juli 2020.
- ICTY Archives. “Final Judgement: Karadžić Case“, 2019.
- The Guardian. “Ratko Mladić convicted of genocide“, 22 November 2017.
- United Nations. “Report of the Secretary-General on the Fall of Srebrenica“, 1999.


