Hilang bak ditelan bumi setelah memimpin pemberontakan yang mengguncang kekuasaan Jepang. Siapa sebenarnya Supriyadi, dan mengapa jejaknya begitu misterius, bahkan dibandingkan dengan rekan seperjuangannya, Panglima Besar Sudirman?
Pada tanggal 14 Februari 1945, meletuslah pemberontakan yang dipimpin oleh shodancho Supriyadi di Blitar, Jawa Timur. Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), cikal bakal TNI, yang didirikan oleh Jepang untuk membantu pertahanan melawan Sekutu, justru berbalik melawan pendirinya. Pemberontakan ini, meskipun berhasil dipadamkan dalam waktu singkat, meninggalkan jejak pertanyaan besar yang tak kunjung terpecahkan: ke mana Supriyadi setelah peristiwa itu?
Berbagai spekulasi bermunculan. Ada yang menyebut ia gugur dalam pertempuran, ditangkap dan dieksekusi Jepang, bahkan ada pula teori yang menyatakan ia berhasil melarikan diri dan hidup dalam persembunyian. Namun, tidak ada bukti konkret yang pernah ditemukan untuk menguatkan salah satu teori tersebut. Misteri ini semakin pekat karena tidak ada makam atau jejak fisik lain yang bisa menjadi petunjuk.
Kisah Supriyadi kontras dengan Panglima Besar Sudirman, yang juga merupakan alumni PETA. Keduanya sama-sama mengenyam pendidikan militer di PETA dan menjadi figur sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun, nasib mereka setelah pemberontakan PETA sangat berbeda. Sudirman, meskipun sempat sakit parah, terus berjuang memimpin gerilya melawan Belanda hingga akhir hayatnya, dan makamnya jelas serta dikenang sebagai pahlawan nasional. Sementara Supriyadi, setelah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975, tetap menjadi sosok tanpa kubur yang keberadaannya menghilang begitu saja.
Sejarawan Peter Carey, seperti yang dikutip oleh Historia.id¹, menyoroti bahwa hilangnya Supriyadi adalah salah satu misteri terbesar dalam sejarah Indonesia. Kurangnya informasi yang valid dan cenderung simpang siur membuat sosok Supriyadi tetap menjadi teka-teki. Hal ini juga diperkuat oleh laporan Kompas.com² yang menyebutkan bahwa arsip-arsip Jepang tidak pernah secara jelas menyebutkan nasib akhir Supriyadi setelah pemberontakan.
Beberapa ahli menduga bahwa ketidakjelasan nasib Supriyadi mungkin disebabkan oleh upaya Jepang untuk menutupi insiden tersebut agar tidak memicu pemberontakan serupa di tempat lain. Atau bisa jadi, sebagaimana diungkapkan oleh Tirto.id³, kegagalan pemberontakan yang cepat diredam membuat informasi mengenai nasib para pemimpinnya menjadi sangat minim dan dijaga ketat oleh pihak Jepang. Sementara itu, informasi mengenai kemungkinan Supriyadi sengaja disembunyikan atau dibuang oleh pihak tertentu di masa pasca-kemerdekaan karena alasan politis, juga pernah menjadi diskusi, meskipun klaim ini juga tanpa bukti kuat.
PETA dan Cikal Bakal TNI
Meski pemberontakan Supriyadi gagal, semangat dan keberanian para prajurit PETA tidak padam. Justru, pengalaman militer yang mereka dapatkan di PETA menjadi modal penting bagi terbentuknya angkatan bersenjata Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk pada 5 Oktober 1945, banyak sekali mantan prajurit dan perwira PETA yang bergabung. Struktur organisasi dan pengalaman tempur yang mereka miliki sangat vital dalam pembentukan kekuatan militer yang terorganisir di masa-masa awal kemerdekaan. Bahkan, bisa dibilang PETA adalah kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin-pemimpin militer Indonesia, termasuk Sudirman dan banyak pahlawan lainnya. Peran PETA sangat signifikan dalam mempersiapkan bibit-bibit unggul yang kemudian mengisi jajaran TKR dan selanjutnya menjadi TNI, membentuk tulang punggung pertahanan negara.
Jabatan Panglima untuk Supriyadi
Ada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa jabatan panglima, atau lebih tepatnya Pemimpin Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), memang sempat diberikan kepada Supriyadi. Setelah proklamasi kemerdekaan, Presiden Soekarno pada tanggal 6 Oktober 1945 menunjuk Supriyadi sebagai Pemimpin Tertinggi TKR. Ia juga sempat diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat pertama pada 19 Agustus 1945 dalam Kabinet Presidensial.
Namun, Supriyadi tidak pernah muncul untuk mengambil jabatan-jabatan tersebut. Keberadaannya tetap menjadi misteri pasca-pemberontakan PETA di Blitar pada Februari 1945. Karena Supriyadi tidak kunjung hadir, pada 20 Oktober 1945 jabatan Menteri Keamanan Rakyat digantikan oleh Muhammad Sulyoadikusumo. Sementara itu, untuk posisi Pemimpin Tertinggi TKR, kekosongan ini diatasi melalui Konferensi TKR pada 12 November 1945 di Yogyakarta, yang kemudian memilih Kolonel Sudirman sebagai Panglima Besar TKR. Sudirman kemudian secara resmi dilantik pada 18 Desember 1945. Ini menunjukkan bahwa meskipun secara formal jabatan penting itu sempat diamanahkan kepadanya, misteri hilangnya Supriyadi membuat ia tidak pernah dapat mengemban amanah tersebut.
Misteri PETA Supriyadi adalah pengingat betapa kompleksnya narasi sejarah, di mana tidak semua kisah pahlawan memiliki akhir yang jelas dan dikenang dengan sempurna. Ia adalah simbol keberanian yang menghilang, meninggalkan warisan pertanyaan yang tak terjawab, dan selamanya menjadi bayangan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Referensi:
