
Kiprah politik Semaoen (kelahiran Sumobito Jombang 1899, meninggal 1971) dimulai tahun 1914 di usia sangat belia yaitu 14 tahun. Pada tahun 1914 itulah dia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) Cabang Surabaya.
Setahun kemudian, 1915, dia bertemu seorang komunis Belanda Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (Henk Sneevliet) yang mengajaknya bergabung ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), sebuah organisasi Komunis Hindia Belanda.
Pada tahun 1918 Semaoen diangkat menjadi Ketua SI Semarang, sejak itulah dirinya dengan konsep komunisnya banyak terlibat, bahkan memimpin, berbagai pemogokan buruh besar-besaran. Bersama-sama dengan anggota SI lainnya yaitu Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Henk Sneevliet memperbesar dan memperkuat gerakan komunis Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme membuat retak hubungan ketiganya dengan anggota Sarekat Islam lainnya.
Kelompok Sarekat Islam yang berhaluan komunis pimpinan trio Semaoen, Alimin, dan Darsono itu dikenal dengan sebutan SI Merah. Pada 23 Mei 1920 Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia Belanda, lantas tujuh bulan kemudian namanya diganti menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen diangkat sebagai Ketua Umum pertamanya.
Kelompok komunis Sarekat Islam Merah ini berkiblat ke Vladimir Lenin yang saat itu sedang gandrung memerangi kapitalisme internasional dengan cara membentuk jaringan tandingan bernama comintern (communism international). Lenin mendorong dan membiayai kelompok kiri binaan komunis Belanda Henk Snivelt ini untuk angkat senjata memberontak melawan rejim kolonial “kapitalis” Hindia Belanda.
Mengabaikan protes Tan Malaka yang menurutnya masih terlalu prematur untuk menantang perang rejim kolonial, dorongan Lenin ini disambut dengan terbentuknya rapat PKI di Candi Prambanan 25 Desember 1925 yang menghasilkan dua pemberontakan yaitu pemberontakan PKI Banten 1926 dan pemberontakan PKI Silungkang Sumatera Barat 1 Januari 1927.
PKI Sumatera Barat menggambarkan Lenin sebagai sosok Ratu Adil. Kedua pemberontakan PKI di Banten dan Sumatera Barat itu itu dipimpin tokoh-tokoh ulama yang tidak puas dengan corak kapitalis Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto.
Dua pemberontakan itu dengan cepat ditumpas habis oleh rejim kolonial. Pimpinan tertinggi pertama PKI Semaoen telah sejak 1923 melarikan diri ke Rusia dilindungi Lenin dengan memberinya kewarganegaraan permanen setelah disingkirkan oleh pemerintah Kolonial akibat mengorganisir pemogokan masal buruh di Semarang. Jabatannya di PKI diserahkan ke Tan Malaka.
Semaoen baru kembali ke Indonesia tahun 1953, kemudian dari tahun 1959 sampai dengan 1961 bekerja sebagai pegawai pemerintah, mengajar mata kuliah ekonomi di Universitas Padjadjaran Bandung. Pada saati itu Semaoen sudah tidak ada hubungan dengan PKI yang dilahirkan dan dibesarkan kembali di era 1950an oleh DN Aidit, anak Kyai Abdullah Aidit pendiri Muhammadiyah cabang Belitung.
