Konflik Rusia VS Ukraina sudah berlangsung hampir sepuluh tahun, hanya perangnya saja yang baru terjadi “kemarin sore”. Sekarang situasi masih panas bergejolak, menurut laporan berbagai media utama luar negeri.
Konflik bermula pada November 2013, sembilan tahun lalu, manakala Presiden Ukraina saat itu Viktor Yanukovych yang memang pro Rusia menolak mentah-mentah proposal perjanjian yang intinya memperbesar integrasi ekonomi Ukraina dengan Uni Eropa. Keputusan itu disambut dengan protes keras di Kyiv yang terus bergulir menjadi gerakan kudeta, sehingga pada 14 Februari 2014 presiden Viktor Yanukovych melarikan diri ke luar negeri.
Sejak saat itu kelompok etnis yang pro Rusia mendapatkan tekanan-tekanan, bully, dan persekusi secara rasis. Pemberitaan Tribune News 10 Maret 2014 menyebut Neo-Nazi Ukraina dalang kerusuhan dan kudeta, mengutip Le Monde yang berbasis di Paris. Viva pada 11 November lalu memberitakan puluhan tentara Neo-Nazi Ukraina tewas dihujani artileri Rusia.
Vladimir Putin berulang kali menegaskan kudeta terhadap Yanukovych didalangi Partai Svoboda yang bertendensi fasis. Pada awal-awal invasinya Putin mengatakan tidak ada niatnya mencaplok Ukraina, tapi hanya demiliterisasi dan “denazifikasi” demi melindungi warganya.[ref]NBC News: Ukraine’s Nazi problem is real, even if Putin’s ‘denazification’ claim isn’t[/ref]
Pada Maret 2014 Rusia mencaplok Crimea, alasannya demi melindungi warga Rusia di sana yang setiap hari jadi target serangan, bahkan pembunuhan. Kemudian melalui referendum warga Crimea memilih ikut Rusia. Barat menuduh referendum itu di bawah tekanan Putin, tidak demokratis. Dua bulan berikutnya etnis pro Rusia di Ukraina Timur yaitu Donetsk dan Luhansk memproklamirkan kemerdekaannya, bergabung dengan Federasi Rusia, pisah dari Ukraina.
Konflik bersenjata antara pasukan pro Rusia di Donetsk dan Luhansk VS Ukraina baru menjadi perhatian dunia manakala Juli 2014 pesawat terbang komersial Malaysia Airline Flight 17 dalam perjalanan Amsterdam – Kualalumpur terkena rudal ketika melintasi Ukraina Timur, menewaskan seluruh dari 298 penumpang dan awak pesawat. Setahun kemudian penyelidik Belanda menyimpulkan bahwa itu rudal darat-udara buatan Rusia yang dikirim ke Ukraina Timur.
