
Berbagai narasi arkeologis yang membahas manusia purba berfokus pada aspek fisik, misalnya aneka macam bentukan-bentukan anatomi (berbagai variasi menyerupai kera), peralatan dan perkasas berburu, memasak. Tentu ini berdasarkan temuan-temuan juga di lokasi fosil. Berdasarkan temuan ilmiah kita punya gambaran bagaimana mereka berkenalan dengan api lantas mendayagunakannya, berkenalan dengan batu lantas membuatnya jadi tombak.
Misalnya, manusia purba Pithecanthropus Erectus (Manusia Jawa) ditemukan di Ngawi tahun 1891, direkonstruksikan dengan rahang menyerupai kera, kemudian oleh Eugene Dubois (penemunya), ditarik ke teori evolusi diyakini sebagai the missing link.
Homo Erectus Soloensis misalnya, ini penghuni Bengawan Solo Purba (era Paleolitikum / Jaman Batu ), diketahui sudah berbudaya berdasarkan temuan-temuan perkakas berburu berupa tombak dan belati terbuat dari batu, tulang binatang, duri ikan pari.
Lalu bagaimana kira-kira perkembangan spritual mereka di masa-masa purba itu, 1-2 juta tahun lalu? Kapan pertama kalinya mereka menalar dan menakar keberadaan atau ketidakberadaan Sang Pencipta Alam Semesta.
Atau mereka sesungguhnya belum manusia, walau sudah mampu bikin perkakas? Sedangkan homo sapien (kita-kita ini) tertua baru muncul beratus-ratus tahun sesudah mereka musnah, yaitu baru sekitar 210 ribu tahun lalu menurut temuan fosil tahun lalu di Yunani, dan homo sapien penghuni Nusantara baru muncul 63-73 ribu tahun lalu.
Ritual Tertua Berdasarkan Temuan Arkeologis.
NBC News melaporkan temuan arkeologis jejak ritual tertua berusia 70 ribu tahun berupa sesajen kepada Ular Python terpahat di bukit Tsodilo, Botswana, Afrika Selatan . Para ilmuwan mengira kecerdasan manusia belum mengembangkan kemampuan untuk melakukan ritual kolektif hingga sekitar 40 ribu tahun lalu. Temuan di dalam gua di perbukitan terpencil di Gurun Kalahari Botswana itu tingginya seperti manusia dan panjangnya 20 kaki (6 meter).

Legenda masyarakat setempat mengatakan bahwa umat manusia adalah keturunan ular piton, dan aliran sungai kuno di sekitar perbukitan diciptakan oleh ular piton yang mengitari perbukitan untuk mencari air tanpa henti.
Legenda itu membuat penemuan ular piton batu semakin menakjubkan. Para ilmuwan menemukan ruang rahasia di balik ukiran ular piton. Adanya bagian yang aus menunjukkan bahwa ruangan itu telah digunakan selama bertahun-tahun.
“Dukun bisa saja menyembunyikan dirinya di ruang rahasia itu,” jelas arkeolog Sheila Coulson dari Universitas Oslo.
“Dia bisa melihat bagian dalam gua dengan jelas sambil tetap bersembunyi. Ketika dia berbicara dari tempat persembunyiannya, sepertinya suara itu berasal dari ular itu sendiri. Dukun itu akan mampu mengendalikan segalanya. Itu sempurna,” sambungnya.
[sourcelink link=”https://choicemutual.com/funeral-rituals-ancient-world/”]
Sejauh bukti arkeologis yang ditemukan, sesajen adalah bentuk ritual tertua dalam sejarah keberadaan homo sapien, setelah itu ritual pemakaman.
