
Melalui muktamarnya yang ke 33 di Jombang, Nahdatul Ulama (NU) kembali mengangkat Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj sebagai ketua umum PBNU periode 2015-2020. Salah satu peristiwa menarik dalam muktamar tersebut adalah adanya pernyataan “Islam Nusantara merupakan gagasan ideologis NU berbasis nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di Indonesia“.
Ideologi Islam Nusantara tersebut, dengan demikian, bukanlah gagasan baru tapi telah dilaksanakan sejak lama oleh para Walisongo penyebar Islam di tanah Jawa. Para tokoh Walisongo itulah yang telah mempraktikan gagasan Islam Nusantara bahwa ajaran Islam disiarkan secara menyatu bersama nilai-nilai lokal masyarakat setempat.
Beberapa peninggalan Islam Nusantara oleh para wali tersebut saat ini masih bisa disaksikan, salah satunya Masjid Agung Kudus, dibangun oleh Sunan Kudus, yang menaranya serupa candi. Pola arsitektur masjid ini memadukan konsep budaya Islam dengan budaya Hindu-Buddhis.
Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdatul Ulama (Munas alim ulama NU) pada 27 Februari 2019 menyepakati konsep ideologis Islam Nusantara sebagai berikut:
Islam Nusantara adalah Islam ahli sunah waljamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan sesuai karakteristik masyarakat dan budaya di Nusantara oleh para pendakwahnya.
Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur, Ahmad Muntaha, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis, 27 Februari 2019.
Kemudian dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan aliran, mazhab, atau sekte, melainkan Islam yang menghormati budaya dan tradisi Nusantara selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
“Kalau sudah Wahabi, ini musyrik, ini bi’dah, ini nggak boleh, ini sesat, ini kafir (takfiri), itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi, sudah halal darahnya dan boleh dibunuh (jihadi),” kata Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj saat membuka webinar Ikatan Sarjana NU (ISNU) bertajuk ‘Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial‘ (30/3/2021).
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Ainur Rofiq Al Amin, penulis buku “Membongkar Proyek Khilafah HTI (Perspektif Kritis)”, juga berpandangan bahwa terorisme bersumber dari ideologi takfiri. Menurutnya pintu masuk terorisme atau radikalisme itu bukan karena faktor kesulitan ekonomi atau ketidakadilan.
Hakekat dari ideologi Islam Nusantara sudah ada sejak jaman Walisongo, maka tidaklah benar tudingan bahwa Islam Nusantara dibuat oleh kelompok liberal dengan menyusup ke NU untuk merusak dari dalam.
Jadi sekarang jelas ideologi Islam Nusantara itu memang dibangun, didirikan, diterapkan, dan dijaga oleh Nahdatul Ulama. Kalau melihat definisi Islam Nusantara seperti itu maka menjadi jelas pula bahwa NU mendirikan Islam Nusantara sebagai antitesa Islam Wahabi, persisnya sebagai respon atas mewabahnya ideologi takfiri Wahabisme.


