
Peran Snouck Hurgronje dalam Perang Aceh
Ia dielu-elukan sebagai master Islamologi, namun tangannya juga menorehkan luka mendalam dalam sejarah kolonial. Dari lorong-lorong Mekkah hingga medan perang brutal di Aceh, Christiaan Snouck Hurgronje adalah paradoks berjalan. Siapa sebenarnya sosok di balik pemikiran yang membentuk kebijakan Belanda di Nusantara ini? Dan mengapa warisannya terus memicu perdebatan sengit hingga kini? Apa sesungguhnya peran Snouck Hurgronje dalam Perang Aceh?
Seorang sarjana yang dihormati sekaligus sosok yang dibenci, Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah nama yang tak terpisahkan dari sejarah kolonial Belanda di Hindia Belanda, terutama di Aceh. Pengetahuan Islamnya yang mendalam membuatnya diakui sebagai orientalis terkemuka, namun di sisi lain, perannya dalam merumuskan kebijakan kolonial yang keras memicu kecaman dan kontroversi yang berkelanjutan. Pameran daring “Admired and Despised: life and work of Snouck Hurgronje” dari Perpustakaan Universitas Leiden[1] mencoba mengupas kompleksitas sosok ini, sebuah upaya yang kini kian relevan dengan terjemahan biografinya ke dalam Bahasa Indonesia.
Dari Mekkah ke Batavia: Perjalanan Intelektual dan Politis
Snouck Hurgronje menapaki jejak sebagai seorang Islamolog ulung. Disertasinya yang berjudul “Het Mekkaansche Feest” pada tahun 1880 menjadi pijakan awal karirnya. Puncak studinya adalah kunjungannya ke Mekkah, di mana ia menjadi salah satu orang Barat pertama yang mendokumentasikan kota suci itu dengan fotografi, menghasilkan mahakarya “Mekka”[1]. Kecintaannya pada studi Islam dan pengetahuannya yang luas membuatnya dikagumi di kalangan akademisi.
Namun, pengabdiannya tidak berhenti di ranah ilmiah murni. Pada tahun 1889, Snouck Hurgronje tiba di Hindia Belanda dan segera menjadi penasihat utama pemerintah kolonial Belanda dalam urusan Islam[1]. Di sinilah sisi kontroversialnya mulai terlihat jelas.
Arsitek Kebijakan Kontroversial di Aceh
Peran Snouck Hurgronje dalam Perang Aceh adalah salah satu babak paling gelap dalam sejarah kolonial Belanda. Ia dikenal sebagai aktor yang sangat berpengaruh dalam mematahkan kekuatan ulama Aceh, yang dipandangnya sebagai penghambat utama penyerahan kedaulatan kepada Belanda[2]. Para ulama adalah penggerak spiritual dalam membela Aceh dan rakyatnya, tidak mudah ditipu oleh upaya damai Belanda[2].
Snouck Hurgronje menyarankan pendekatan yang memisahkan Islam sebagai agama dan Islam sebagai doktrin politik[3]. Baginya, Islam sebagai agama tidak perlu ditakuti, namun Islam sebagai doktrin politik, yang sering kali dipimpin oleh minoritas ulama fanatik, merupakan ancaman[4]. Ia merekomendasikan pemerintah kolonial untuk menjalin hubungan baik dengan para kepala “kerajaan” di daerah (uleebalang) dan melenyapkan kelompok perlawanan yang dipimpin ulama[5].
Rekomendasi ini diterjemahkan oleh para pemimpin militer Belanda, khususnya J.B. van Heutsz, dengan mengerahkan pasukan elit Marsose untuk memburu ulama dan pengikutnya. Operasi militer ini, dalam banyak kasus, berujung pada genosida terhadap orang-orang tak bersalah, termasuk perempuan, orang tua, dan anak-anak[5]. Kebijakan ini, yang bertujuan untuk depolitisasi Islam, secara efektif melemahkan ideologi politik Islam di Indonesia, dengan dampaknya yang masih terasa hingga kini[6].
Warisan yang Diperdebatkan
Sebagai seorang administrator dan guru besar di Leiden, Snouck Hurgronje juga dikenal karena karakternya yang menuntut[1]. Meskipun demikian, kontribusinya pada studi etnografi dan antropologi dalam kajian Islam tidak dapat disangkal, membentuk metodologi penelitian yang signifikan di bidang tersebut[7]. Namun, era kajian Islam abad ke-21 sangat berbeda, dengan fokus yang lebih besar pada peneliti “orang dalam” dan tidak adanya kepentingan imperialistik[7].
Kehidupan dan karyanya, yang dibingkai oleh pameran daring Leiden University Libraries, merupakan sebuah pengingat akan kompleksitas sejarah dan peran individu di dalamnya. Snouck Hurgronje adalah representasi dari seorang sarjana cemerlang yang pengetahuannya digunakan untuk tujuan kolonial, meninggalkan warisan yang terus diperdebatkan dan dianalisis dalam konteks sejarah Indonesia dan Belanda.
Referensi:
- Perpustakaan Universitas Leiden. “Online Exhibition – Admired and Despised: life and work of Snouck Hurgronje.”
- ResearchGate. “The Roles Of Snouck Hurgronje in Reducing The Acehnese’s Resistance Against The Dutch.”
- Jurnal IAIN Gorontalo. “Pemikiran Christian Snouck Hurgronje dan Implikasi Terhadap Umat Islam di Indonesia.” https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa/article/view/5938
- Tengkuputeh. “ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA.” https://tengkuputeh.com/2018/07/09/islamic-politics-by-snouck-hurgronje/
- ResearchGate. “The Snouck Hurgronje’s Doctrine in Conquering the Holy Revolts of Acehnese Natives.”
- Jurnal IAIN Ambon. “PANDANGAN SONOUCK HURGRONJE TENTANG ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PRAKTIK HUKUM DAN POLITIK DI INDONESIA.” https://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/DT/article/view/1114
- Teosofi. “The Western Perspective on Islam: Reading the Legacy of Snouck Hurgronje on Islamic Studies.” https://jurnalfuf.uinsa.ac.id/index.php/teosofi/article/view/2174


