
Guncangan dari Eropa
Di akhir abad ke-18, gelombang besar perubahan dari Eropa menghantam pulau Jawa. Perang Revolusi Prancis dan Perang Napoleon bukan hanya mengguncang benua biru, tetapi juga menjalar ke wilayah jajahan mereka di Asia, termasuk Hindia Belanda. Tradisi dan tatanan lama Jawa mulai goyah, digantikan oleh pengaruh kolonial yang semakin menguat.
Awalnya, Belanda datang ke Nusantara pada akhir abad ke-16 dengan memanfaatkan peta rahasia Portugis. Mereka tergoda oleh rempah-rempah Maluku dan lada dari Jawa Barat. Tahun 1602, Belanda mendirikan VOC, perusahaan multinasional pertama di dunia. Batavia (kini Jakarta) ditetapkan sebagai pusat kendali perdagangan Asia pada 1619. Selama abad ke-17, kekuatan VOC terus meluas di pesisir utara Jawa, mengambil alih kekuasaan yang dulu dipegang Kesultanan Mataram, kerajaan terbesar yang tersisa kala itu.
Namun, pada abad ke-18, VOC menghadapi kemunduran hingga akhirnya bangkrut dan dibubarkan pada 1799. Sementara di Eropa, kekuasaan Belanda diambil alih oleh Prancis. Dalam situasi genting ini, koloni-koloni Belanda termasuk Jawa pun jatuh ke tangan Inggris melalui instruksi “Surat Kew” yang dikeluarkan Willem V saat mengungsi ke Inggris pada 1795. Jawa kemudian sempat dikuasai oleh Daendels (1808–1811) dan Raffles (1811–1816), dua tokoh penting yang mempercepat perubahan besar di tanah Jawa.
Reformasi Daendels dan Jalan ke Konflik
Herman Willem Daendels tiba di Jawa di tengah blokade Inggris. Ia lalu membangun Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan melintasi pegunungan, sebagai jalur logistik militer. Lebih dari sekadar pembangunan jalan, Daendels juga memusatkan pemerintahan kolonial dan memperkenalkan gagasan baru soal status sosial: bukan lagi keturunan yang menentukan kehormatan, melainkan pengabdian kepada negara.
Namun, kebijakan dan penindasan kolonial yang terus berlanjut, ditambah penderitaan rakyat karena kelaparan, pajak tinggi, dan wabah penyakit, akhirnya memicu perlawanan besar. Jawa memasuki salah satu periode tergelapnya: Perang Jawa (1825–1830) di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.
Diponegoro: Pewaris Tradisi, Pelopor Perlawanan
Lahir tahun 1785, Pangeran Diponegoro adalah anak sulung dari Sultan Hamengkubuwono III, namun bukan dari permaisuri utama. Sejak kecil ia dibesarkan oleh buyutnya, Ratu Ageng, di desa Tegalrejo. Di sanalah ia tumbuh dalam kesederhanaan, dekat dengan rakyat kecil dan mendalami ajaran sufistik khas Islam Jawa yang menyatu dengan warisan Hindu-Buddha dan animisme lokal.
Diponegoro percaya bahwa dirinya ditakdirkan menjadi Ratu Adil, raja adil yang akan memulihkan tatanan dunia Jawa. Ia bukan pejuang khilafah, melainkan pembela keyakinan dan adat lokal. Tempat pertapaannya di Selorejo menunjukkan keyakinannya yang eklektik—ia bermeditasi di tengah patung Buddha dan Hindu, di bawah bayangan Merapi, sambil tetap menjalankan tarekat Islamnya.
Perang Meletus di Tegalrejo
Pemicunya tampak sepele: proyek jalan Belanda yang melintasi tanah warisan keluarganya di Tegalrejo. Ketegangan memuncak. Pada 21 Juli 1825, rumah Diponegoro dibakar dan ia melarikan diri ke gua pertapaannya. Dari sanalah perang dimulai. Dalam waktu singkat, perlawanan menyebar ke berbagai penjuru Jawa. Diponegoro membentuk pasukan ala militer Ottoman, memberi gelar Arab kepada para panglima, termasuk Nyai Ageng Serang, tokoh perempuan yang memimpin serangan mematikan terhadap pasukan Belanda.
Pasukan Diponegoro dikenal lihai dalam taktik gerilya: bergerak cepat, menyerang mendadak, lalu menghilang ke pegunungan. Mereka mampu bertahan hidup dengan makanan sederhana seperti nasi kering dan umbi-umbian.
Pasang Surut Perang
Pada dua tahun pertama, kekuatan antara Belanda dan pasukan Diponegoro relatif seimbang. Namun militer kolonial lamban beradaptasi. Banyak serdadu Eropa gugur karena penyakit, dan pasukan bantu lokal sering justru merepotkan. Sementara itu, Diponegoro justru semakin kuat, terutama dengan bantuan putra angkatnya, Sentot.
Belanda akhirnya mengubah strategi: membangun benteng-benteng kecil dan mengerahkan pasukan cepat. Langkah ini pelan-pelan menggerus kekuatan Diponegoro. Pada akhir 1829, wilayah kekuasaannya menyempit. Ia sempat lolos dari penyergapan, namun akhirnya tertangkap saat perundingan di Magelang pada Maret 1830.
Akhir Perang, Awal Penjajahan Total
Perang Jawa menjadi penanda berakhirnya tatanan lama Jawa dan awal dari kolonialisme penuh Belanda. Sekitar 200.000 orang Jawa tewas, dua juta lainnya terdampak. Belanda sendiri kehilangan 15.000 tentara dan terlilit utang. Untuk menutup biaya perang, mereka memberlakukan Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) pada 1830. Hasilnya: dalam empat dekade, Belanda meraup 832 juta gulden—setara lebih dari $100 miliar hari ini—yang menjadi modal industrialisasi mereka di Eropa.
Diponegoro tak sekadar pejuang fisik, tapi juga simbol kebudayaan. Ia memaksa tahanan Belanda menggunakan bahasa Jawa halus, berpakaian ala Jawa, bahkan mempertimbangkan masuk Islam. Ia mengecam dominasi Cina di sektor pajak dan menyarankan agar warga Tionghoa memotong kuncir, disunat, dan mengucap syahadat jika ingin bergabung.
Diponegoro dalam Kenangan dan Nasionalisme
Di pengasingannya di Makassar, Diponegoro menulis Babad Diponegoro, kronik pribadi yang kini diakui UNESCO. Ia ingin anak-anaknya tetap menjadi orang Jawa, bukan Bugis atau Makassar. Meski jasadnya tak pernah kembali ke Jawa, nama dan semangatnya terus hidup. Pada awal abad ke-20, para nasionalis, komunis, dan Islamis sama-sama menjadikan Diponegoro sebagai simbol perjuangan.
Meski Keraton Yogyakarta sempat menjauhinya karena dianggap mengkhianati istana, negara Indonesia yang merdeka akhirnya menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1973. Pangeran Diponegoro dikenang sebagai tokoh yang menolak tunduk pada kolonialisme, membela rakyat, dan membayar mahal demi keyakinannya—dalam perang, dan dalam hidup.
Referensi:
- Peter Carey: Europe and the End of Old Java | History Today Volume 75 Edisi 7, Juli 2025. Peter Carey adalah sejarawan dan fellow emeritus di Trinity College, Oxford, dan penulis berbagai karya tentang sejarah Jawa dan Pangeran Diponegoro.
