
Jendral Sudirman bukan satu-satunya panglima perang yang memimpin pasukannya dari atas tandu. Jauh sebelum itu sudah ada panglima perang yang memimpin pasukannya dari atas tandu. Bukan karena sakit tapi karena sudah tua, bukan laki-laki tapi perempuan. Sosok perempuan tua ini disebut dalam berbagai literatur memimpin perang dengan cara bertandu.
Wanita ini menjadi panglima perang Pangeran Diponegoro pada usia 73 tahun. Meskipun patungnya berkuda, beliau memimpin pasukan dengan tandu, menurut penjelasan Dinas Kebudayaan Propinsi DIY. Beliau pernah menikah dengan Sultan HB II, dengan demikian hubungannya dengan Pangeran Diponegoro adalah nenek tiri. Berdarah Sunan Kalijaga, R.M. Soewardi Surjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) adalah cucunya yang berjuang di abad 19.
Ayahandanya juga seorang panglima perang, yaitu panglima perangnya Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) bernama Pangeran Natapraja, penguasa Serang, wilayah sekitar 40 km sebelah utara Surakarta dekat Purwodadi, Jawa Tengah. Peperangan pertama yang beliau ikuti adalah bertempur mendampingi ayahandanya itu.
Pangeran Natapraja tidak setuju Perjanjian Giyanti yang memecah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Karena menolak pasukannya dilucuti maka terjadilah perselisihan dengan Sultan HB I yang lantas menolak membantu ketika Pasukan Kolonial menyerbu menduduki markas Natapraja untuk melucuti paksa. Ketika itu Natapraja sudah merasa terlalu tua untuk memimpin pertempuran, lantas pasukan beliau serahkan kepada puterinya itu.
Tanpa dukungan Sultan HB I perlawanan pasukan pimpinan putri Pangeran Natapraja itu berlangsung sebentar saja. Beliau segera dilucuti, ditangkap, lalu dikirim ke Keraton Yogyakarta ketika Sultan HB II (Raden Mas Sundoro) dinobatkan. Keraton menyambut kedatangannya secara besar-besaran.
Selama tinggal di Keraton Yogyakarta beliau dalam status di bawah pengawasan rejim kolonial, lantas menikah dengan Sultan HB II karena perjodohan. Pangeran Natapraja dan Sultan HB I jauh hari sebelumnya sudah bersepakat besanan. Namun pernikahan beliau dengan Sultan HB II tidak berlangsung lama.
Setelah bercerai beliau menikah dengan Pangeran Mutia Kusumowijoyo yang bergelar Pangeran Serang I.
Itu makanya dalam Perang Diponegoro dia dikenal dengan nama Nyi Ageng Serang.
Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad 18-19.
Kehidupan barunya berumahtangga lebih banyak diisi olah spiritual, sampai akhirnya pecahlah perang Diponegoro. Wanita tua bertandu ketika menjadi panglima perang Diponegoro itu adalah Nyi Ageng Serang, aslinya bernama Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi.
Nyi Ageng Serang adalah salah satu dari 8 Pahlawan Nasional yang berasal dari trah Mataram, bersama Sultan Agung, Pangeran Samber Nyawa (Mangkunegara I), Sultan HB I, Pangeran Diponegoro, kakak beradik RM Soerjopranoto – RM Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), dan Sultan HB IX.
