Kho Tjien Tiong kelahiran Klaten, Hindia Belanda, 8 Agustus 1926 dari pasangan Go Djon Nio dan Kho Bok Kwie ini pada 1942 mendirikan grup keroncong Asli di Kampung Perawit bersama teman-temannya yaitu Lie Tjong Yan, Liem Swie Hok, Liew Houw Wan, The Kit Liong, Kho Djien Tik dan Yo Thio Im. Dalam grup ini dia mulai mengembangkan bakatnya memainkan gitar dan biola, lantas bersama Supardi dia menjadi anggota grup musik di Gedung Kakio Sokai, Purwoningratan dan itulah pentasnya untuk pertama kali.
Pada tahun 1946 dia kemudian diminta bergabung dengan Orkes Keroncong Bunga Mawar bersama Gesang sang maestro Bengawan Solo, Hendroyadi, Hardiman dan Ndoro Griwo. Orkes ini sering pentas ke berbagai kota dan lagu-lagunya menjadi andalan RRI Solo.
Berdirinya Panggung Lawak Legendaris Srimulat
Ketika Orkes Keroncong Bunga Mawar manggung di Purwodadi, Kho Tjien Tiong yang bernama Jawa Teguh Slamet Rahardjo itu bertemu dengan seniman primadona Orkes Bintang Timur berdarah ningrat Sukoharjo bernama Raden Ajeng Srimulat, anak dari Wedono Bekonang Raden Mas Adipati Aryo Tjitrosoma. Pada 8 Agustus 1950 mereka menikah, lantas segera mendirikan kesenian panggung keliling Gema Malam Srimulat dan belakangan berganti nama menjadi Panggung Aneka Ria Srimulat
Bagi RA Srimulat itu adalah pernikahan ke dua, sedangkan Kho Tjien Tiong alias Teguh Slamet Rahardjo perjaka 20 tahun lebih muda. Suami pertamanya bernama Raden Hardjowinoto meninggal. Kehidupan keningratan RA Srimulat penuh dengan suara tembang, bunyi gamelan, dan gerak tari, dibandingkan saudara-saudaranya RA Srimulat paling cepat menangkap ajaran kesenian yang diberikan ayah dan abdi dalemnya. Sebagai putri bangsawan RA Srimulat juga menjalani masa dipingit, dijauhkan dari pendidikan, sebagaimana dialami RA Kartini.
RA Srimulat akhirnya pun minggat dari pingitan karena muak dengan tata kehidupan feodal dan praktek perseliran di dalam kompleks rumahnya sendiri. Berbekal uang 3,5 sen dia pergi ke Yogyakarta melamar kerja ke dalang kondang Ki Tjermosugondo. Setahun kemudian RA Srimulat bergabung dengan Ketoprak Candra Ndedari pimpinan Ki Retsotruno yang kebetulan sedang pentas di Alun-alun Utara Yogyakarta.
