Ong Hok Liong mengalami keterpurukan ekonomi pada tahun 1950an, kemudian berziarahlah dia ke Pesarean Gunung Kawi, Malang. Pada suatu malam hari, di situ dia bermimpi menanam bentul, lantas bertanya kepada juru kunci makam tentang maknanya. Juru kunci menganjurkan agar dia mengubah merek rokoknya menjadi Bentoel, yang kemudian dia laksanakan pada tahun 1954. Setelah itu bisnis Ong Hok Liong meningkat dan menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia.
Pesarean Gunung Kawi di sebelah barat kota Malang, Jawa Timur, terkenal hingga mancanegara sebagai tempat ziarah spiritual. Situs bermula sebagai tempat dimakamkannya Kyai Zakaria II. Tempat ini belakangan berkembang menjadi situs untuk memohon rezeki yang banyak dikunjungi masyarakat Jawa, Madura, dan keturunan Tionghoa.
Siapa Kyai Zakaria II?
Belakangan dikenal dengan nama Eyang Djugo atau Eyang Kromodiredjo (etnis Tionghoa memberinya nama Taw Low She), Kyai Zakaria II adalah penasehat spiritual dan salah satu senopati perang Pangeran Diponegoro. Beliau dikenal sebagai bangsawan Keraton Yogyakarta bernama R.M. Soerjokoesoemo, cicit Pakubuwono I, menurut Surat Keterangan Pengageng Kantor Tepas Darah Daken Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor 55/TD/1964 yang ditandatangani oleh Kanjeng Tumenggung Danoehadiningrat, 23 Juni 1964:
“Maka atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwono V, R.M. Soerjokoesoemo mengubah namanya sesuai Peparing Dalem Asmo, nunggak semi dengan ayahandanya menjadi Kanjeng Kyai Zakaria II”
Setelah kekalahan dan pengasingan Pangeran Diponegoro ke Manado pada tahun 1830, R.M. Soerjokoesoemo melepas atribut kebangsawanannya lalu pergi mengembara hingga akhirnya bernmukim di Kesamben Blitar pada tahun 1840, menghindar dari kejaran kolonial.
Beliau kemudian di Blitar membuka padepokan, menerima banyak murid, salah satu diantaranya menjadi putera angkatnya yaitu Raden Mas Jonet atau Raden Mas Iman Soedjono yang juga salah satu prajurit senapati Pangeran Diponegoro.
Pada dekade kedua, beliau memerintahkan R.M. Iman Soedjono untuk membuka hutan di sebelah selatan Gunung Kawi, sambil berpesan bahwa beliau merasa ajalnya sudah dekat dan ingin dimakamkan di sana. Murid-murid beliau yang berangkat berjumlah 40 orang, banyak diantaranya etnis Tionghoa.
Suatu ketika Tan Kie Lam, seorang murid beliau, jatuh sakit, kemudian oleh R.M. Iman Soedjono (Eyang Soedjo) dimandikan dengan air guci peninggalan Kyai Zakaria II. Sakitnya sembuh, kemudian dia pun mengabdi menjadi murid di padepokan Eyang Soedjo dan tinggal di Gunung Kawi. Merasa ingin mengikuti ritual tersebut secara Tionghoa untuk menghormati kedua guru besarnya itu, Tan Kie Lam kemudian membangun klenteng di dekat padepokan sebagai tempat beribadah Konghucu dan Buddhis. Klenteng ini memiliki junjungan utama Dewi Kwan Im. Memang Kyai Zakaria II juga dipuja di banyak klenteng, termasuk Kim Tek Ie, klenteng tertua di Jakarta.
Kyai Zakaria II wafat Senin Pahing, 1 Selo 1817 M (22 Januari 1871). Jenasahnya diberangkatkan dari Dusun Jugo dan di Gumuk Gajah Mungkur pada hari Rabu Wage. Karena sudah malam, jenasah Eyang Djugo dimakamkan pada hari Kamis Kliwon pagi. Oleh sebab itu, setiap hari Senin Pahing diadakan selamatan dan bila bertepatan dengan bulan Selo, peserta selamatan adalah seluruh penduduk desa. Selamatan tersebut dikenal dengan nama Barikan.
Pada tahun 1871-1876, seorang putri Residen Kediri yaitu Ny. Schuller datang untuk berobat ke R.M. Iman Soedjono hingga sembuh. Dia tidak pulang lagi ke Kediri hingga R.M. Iman Soedjono wafat pada hari Rabu Kliwon tahun 1876 M (8 Februari 1876). R.M. Iman Soedjono dimakamkan satu liang dengan Kyai Zakaria II ayah angkatnya.
Pada tahun 1932, datanglah seorang Tionghoa bernama Ta Kie Yam atau mpek Yam untuk berziarah, tetapi akhirnya tinggal menetap. Dia bersama beberapa temannya di Surabaya dan seorang dari Singapura kemudian membangun jalan dari pesarean hingga ke bawah berikut dengan gapura-gapuranya. Sejak itulah wilayah tersebut ramai didatangi orang-orang yang bermaksud menetap.
