
Kehidupan Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) sudah diwarnai intrik politik berdarah sejak masa kecilnya, intrik yang menewaskan ayahandanya yaitu Pangeran Tepasana. Setelah ayahandanya tewas, Raden Mas Garendi dibawa lari meninggalkan Karaton Kartasura oleh Wiramenggala, pamannya, melintasi Gunung Kemukus menuju Grobogan. Ketika berada di lokasi itu rombongan pelarian tersebut berjumpa dengan keluarga Tionghoa, Tan He Tik, Raden Mas Garendi lantas diangkat anak olehnya.
Raden Mas Garendi tak lain adalah Sunan Amangkurat V yang dinobatkan menjadi penguasa Mataram oleh pihak-pihak yang menentang kongsi antara Sunan Pakubuwono II dan VOC. Pakubuwono II (Raden Mas Prabasuyasa) ini adalah kakak dari Pangeran Mangkubumi yang kelak bergelar Hamengkubuwono I. Beliau adalah juga paman dari Raden Mas Said yang kelak bergelar Mangkunagara I alias sang Pangeran Samber Nyawa.
Amangkurat V juga diberi julukan Sunan Kuning karena tumbuh di lingkungan keluarga Tionghia tersebut. Pakubuwono II dan Sunan Kuning adalah sama-sama cucu dari Amangkurat III.
Pada mulanya, Sunan Pakubuwana II juga melawan VOC, bahkan sempat mengirim ribuan pasukan untuk membantu Laskar Tionghoa mengepung VOC di Semarang di masa-masa Geger Pecinan yang meletus di Batavia dipicu oleh dibantainya 10 ribu Tionghoa oleh VOC pada tahun 1740.
Geger Pecinan yang bermula di Batavia ini dalam sekejab merebak hingga nyaris di seluruh pulau Jawa. Geger Pecinan di Batavia dipimpin oleh Panglima Souw Phan Ciang atau Khe Panjang, yang kemudian dikenal sebagai Kapitan Sepanjang. Setibanya di Semarang, Kapitan Sepanjang bergabung dengan Laskar Tionghoa pimpinan Singseh (Tan Sin Ko). Duet Kapitan Sepanjang dan Singseh berperang melawan VOC itulah yang mendapat bantuan pasukan dari Pakubuwana II, tapi tidak lama kemudian kemudian Pakubuwono II berubah sikap, berbalik arah 180 derajad karena khawatir dilengserkan dari tahtanya oleh VOC.
Selain Laskar Tionghoa, pihak yang mendukung Sunan Kuning melengserkan Pakubuwono II adalah Raden Mas Said (Mangkunegara I alias Pangeran Samber Nyawa), bupati Grobogan Tumenggung Martapura, bupati Pati Tumenggung Mangun Oneng, dan patih Natakusuma yang memilih membelot dari Pakubuwono II.
30 Juni 1742 Sunan Kuning bersama Laskar Tionghoa menggempur dengan menjebol benteng Karaton Kartasura dengan meriam, bekasnya bisa dilihat sampai sekarang. Pakubuwono II lolos melarikan diri dikawal segelintir orang yang setia dan petugas VOC. Setelah tiba di Madiun mulai mengumpulkan para pendukungnya, dan mulai berupaya mendapatkan kembali mahkotanya yang hilang. Dalam rangka itu Pakubuwono II kemudian pergi ke Ponorogo menemui Kyai Muhammad Besari di Tegalsari, pesantren cikal bakal Gontor. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh Jawa dan sekitarnya, di antara santri-santrinya yang terkenal belakang hari adalah Ranggawarsita, Pangeran Diponegoro, dan H.O.S. Cokroaminoto.
Pakubuwono II nyantri di Pondok Tegalsari sambil mengumpulkan kekuatan untuk merebut kembali tahtanya.
Mulai November 1742 keadaan semakin tidak berpihak kepada Sunan Kuning. Rencana menggempur VOC Semarang dipimpin Raden Mas Said (Mangkunegara I alias Pangeran Samber Nyawa) bersama ribuan Laskar Tionghoa gagal karena dihadang pasukan VOC pimpinan Kapten Gerrit Mom. Keraton Kartasura kemudian mendapat serangan balik dari kongsi antara Pakubuwono II dan VOC, dibantu pula oleh pasukan Cakraningrat V dari Madura.
Akhir dari perjalanan Amangkurat V sang Sunan Kuning terjadi pada September 1743 saat tedesak di sekitar Surabaya. Terpisah dari kawalan Kapitan Sepanjang, Amangkurat V terpaksa menyerahkan diri ke loji VOC di Surabaya di bawah pimpinan Reinier De Klerk. Setelah beberapa hari ditawan di Surabaya, dia bersama beberapa pengikutnya dibawa ke Semarang lalu ke Batavia, hingga akhirnya dibuang ke Sri Lanka hingga wafatnya.
Karena Keraton Kartasura rusak akibat digempur meriam tersebut di atas, Pakubuwono II lantas mendirikan istana baru yaitu Keraton Surakarta yang berada di desa Sala.
