
Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa) adalah cucu Amangkurat IV (Pakubuwono I). Ayah Mas Said adalah pewaris tahta, kakak dari Pangeran Mangkubumi, namun dibuang ke Srilangka karena sikapnya terang-terangan anti kolonial VOC. Tahta oleh VOC kemudian diberikan pada Raden Mas Prabasuyasa, anak dari permaisuri keturunan Sunan Kudus bergelar Pakubuwono II. Penobatan Pakubuwono II oleh VOC inilah yang memicu pemberontakan Mas Said.
Sebelum itu, pada tahun 1740 di Batavia terjadi pemberontakan etnis Tionghoa menantang perang rejim kolonial. Pemberontakan ini dengan cepat meluas hingga seluruh Jawa. Pada 1742 Mas Said bergabung dengan kelompok Tionghoa pemberontak menduduki Kasunanan Kartasura bertujuan melengserkan Pakubuwono II.
Pada ahirnya pemberontakan itu ditumpas VOC dibantu pasukan Cakraningrat IV Madura, akan tetapi Mas Said tetap menduduki tanah Sukowati Sragen. Datanglah tak lama kemudian Gubernur Jendral Baron van Imhoff menekan Sunan Pakubuwono II untuk segera menyewakan wilayah Pantura seharga 20 ribu real dan duitnya dipakai untuk mengganti biaya penumpasan pemberontakan. Tekanan ini ditentang Pangeran Mangkubumi sehingga terjadilah pertengkaran antara dirinya dengan Baron di muka umum. Menolak kedaualatan kerajaan digadaikan begitu rupa, Pangeran Mangkubumi kemudian pada 1746 pergi meninggalkan keraton untuk bergabung dengan pemberontakan Mas Said, keponakannya.
Mangkubumi adalah anak Amangkurat IV (Pakubuwana I) dari selir bernama Mas Ayu Tejawati, sedangkan Pakubuwono II adalah anak Amangkurat IV juga tapi dari permaisuri, dan Raden Mas Said adalah cucu Amangkurat IV dari jalur selir Mas Ayu Karoh. Jadi Raden Mas Said adalah keponakan Mangkubumi dan sebagai ikatan atas penggabungan pasukan untuk memberontak itu Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.
Perang antara bersatunya kubu Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said alias Mangkunegara I melawan Pakubuwana II yang didukung VOC disebut sebagai Perang Suksesi Jawa III. Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan Pangeran Mangkubumi mencapai 13 ribu prajurit. Pada akhir 1749 Pakubuwana II sakit parah, kemudian pada 11 Desember menyerahkan kedaulatan keraton sepenuhnya ke tangan VOC sebagai “pelindung”.
Raden Mas Said alias Mangkunegara I saat itu berusia 22 tahun, bertempur secara gerilya di pedalaman Yogyakarta. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta itulah Raden Mas Said mendengar kabar wafatnya Paku Buwono II, lantas menemui Pangeran Mangkubumi dan meminta mertuanya itu untuk bersedia dinobatkan menjadi raja baru Mataram.
Pangeran Mangkubumi pun bersedia, kemudian segera dinobatkan dengan gelar Pakubuwana III tanggal 12 Desember di markasnya, akan tetapi tidak diakui VOC yang lantas mengangkat putra Pakubuwana II sebagai Pakubuwana III tanggal 15 Desember padahal belum dewasa. Dengan demikian terdapat “Pakubuwana III Kembar”, yang satu disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut Susuhunan Kabanaran karena bermarkas di desa Banaran di daerah Sukowati Sragen.
Pada tahun 1752 terjadi perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dan menantunya itu mengenai supremasi tunggal Mataram. Pangeran Mangkubumi cenderung menerima tawaran VOC untuk membelah sisa-sisa Mataram itu menjadi dua, namun Mas Said menolak. Raden Mas Said ingin ayah mertuanya itu menjadi penguasa tunggal penerus generasi Mataram, artinya melengserkan Pakubuwono III dan mengusir VOC.
Akhirnya perjanjian Giyanti itu pun terjadilah pada 13 Februari 1755. Mataram dibelah dua menjadi Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwono III dan Kesultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.
Perjanjian Giyanti membuat Raden Mas Said merasa dikhianati oleh Pangeran Mangkubumi, mertuanya.
RM Said telah berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram yang terdikte rejim Kolonial. Selama tahun 1741-1742 dia memimpin pemberontakan laskar Tionghoa, lantas bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama sembilan tahun melawan pasukan “koalisi” Mataram – Belanda 1743-1752. Perjanjian Giyanti membelah bumi Mataram menjadi dua merupakan perjanjian yang sangat ditentangnya karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.
Selanjutnya paska Giyanti dia praktis berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua raja sekaligus yaitu Pakubuwono III & Hamengkubuwono I yang tak lain adalah paman sekaligus mertuanya; serta tentara VOC pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun itu dia bersama pasukannya bertempur sebanyak 250 kali.
Sebagai mertua dari Mangkunegara I alias Pangeran Samber Nyawa, Sultan Hamengkubuwono I serius menanggapi kemarahan menantunya itu terhadap berdirinya Kesultanan Yogyakarta melalui pakta Giyanti. Oleh menantunya itu Sultan dituding berkhianat melalui Giyanti, padahal duet mertua – menantu ini telah belasan tahun bertempur bahu membahu mengusik campur tangan VOC terhadap “politik dalam negeri” Mataram, terbesar diantaranya adalah pertempuran Bogowonto 1751 yang menewaskan kapten VOC de Clerck. Berbagai sumber menyebut bahwa dalam pasukan Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwono I) terdapat kelompok “Tentara Elit Wanita” (Prajurit Estri) yang dipimpin salah satu istrinya yaitu yang bergelar Nyi Ageng Tegalrejo. Belakang hari Nyi Ageng inilah pengasuh “jiwa raga” Pangeran Diponegoro, cucu buyutnya, anak dari Sultan Hamengkubuwono III. Siapa di antara Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kadipaten dan GKR Kencono yang bergelar Nyi Ageng Teglarejo? Keduanya ini adalah istri Sultan Hamengkubuwono I, yang bergelar Nyi Ageng adalah yang disebut pertama.
Hubungan mertua – menantu itu mengalami pasang surut drastis dramatis. Pada satu sisi, Hamengkubuwono I menerima pakta Giyanti lebih politis sebagai strategi memperpanjang nafas perjuangan: live now to fight another day. Belasan tahun bertempur, VOC tidak kunjung mampu menumpas duet pemberontakan Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwono I) bersama menantunya itu, sebaliknya sang Pangeran pun tak mampu menetralisir VOC. Sementara itu si menantu berprinsip tijitibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. It’s now or never, zero sum game, nggak ada istilah kemenangan setengah-setengah: pokoknya gue yang mati atau lu, terhadap VOC.
Begitulah, bahkan dalam pasang surut itu sempat terjadi pertempuran besar antara pasukan Pangeran Samber Nyawa melawan pasukan Hamengkubuwono I mertuanya di desa Kasatriyan, barat daya Ponorogo, Jawa Timur. Perang terjadi Jumat Kliwon, 16 Syawal tahun 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Pangeran Samber Nyawa setelah berhasil menduduki Madiun, Magetan, dan Ponorogo.
Pertempuran berikutnya antara mertua vs menantu tersebut adalah ketika sang menantu menyerang benteng Belanda Vredeburg di Yogya pada Kamis 3 Sapar, Jumakir 1682 J (1757 M). Peristiwa ini dipicu oleh kekalutan tentara VOC mengejar Mangkunegara I sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Mangkunegara I murka lantas balik menyerang VOC di benteng Vredenburg. Penyerbuan dimulai setelah memenggal kepala Patih Joyosudirgo, Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa kemudian membawa pasukannya mendekat Keraton Yogyakarta guna menyerbu benteng VOC Vredeburg yang letaknya cuma beberapa puluh meter di depan Keraton Yogyakarta. Lima tentara VOC tewas, ratusan lainnya melarikan diri kocar-kacir masuk ke lingkungan Keraton Yogyakarta minta perlindungan. Tanpa ampun selanjutnya pasukan Mangkunegara I pun menyerang mengejar masuk Keraton, pertempuran ini berlangsung sehari penuh. Mangkunegara I baru menarik mundur pasukannya menjelang malam. Serbuan Mangkunegara I ini mengundang amarah Sultan Hamengku Buwono I yang kemudian menawarkan hadiah 500 real serta kedudukan sebagai bupati kepada siapa saja yang dapat menangkap hidup Mangkunegara I, akan tetapi Sultan gagal menangkap keponakan yang juga menantunya itu. VOC menjanjikan hadiah 1.000 real bagi yang dapat membunuhnya, gagal pula.
Akan tetapi belakang hari, yaitu setelah Mangkunegara I “dijinakkan” melalui Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757 (ini isinya mirip-mirip Giyanti lah), Sultan Hamengkubuwono I kembali kompak bersekutu dengan keponakan sekaligus menantunya itu, bahkan uniknya kali ini melibatkan pula VOC untuk bertiga bersama-sama menghadapi Pakubuwono IV. Apa pasal?
Dengan dilantiknya Pakubuwono IV (1788 – 1820) menggantikan ayahnya, pakta Giyanti terancam bubar. Pertama, Pakubowono IV bermisi menyatukan kembali Mataram dengan cara tidak mengakui Kesultanan Yogyakarta sebagai hasil pakta Giyanti. Secara konfrontatif Pakubuwono IV menobatkan saudaranya sendiri sebagai Pangeran Mangkubumi dan menganggap Mangkubumi yang di Yogyakarta (Hamengkubuwono I) tidak ada. Kedua, VOC tidak suka keberadaan tokoh-tokoh spritual (ulama) di lingkungan elit Pakubuwono IV menyingkirkan pejabat-pejabat senior keraton (karena kejawen) dan pejabat-pejabat VOC (karena korup) di Surakarta seperti Residen W.A. Palm, serta menyingkirkan Yogyakarta agar Surakarta menjadi pewaris tunggal Mataram Islam.
*/ Mangkubumi adalah gelar yang diberikan pada seorang pangeran. Pangeran Mangkubumi artinya pangeran yang menjabat Mangkubumi (Kepala Pemerintahan). Pangeran yang menyandang gelar ini biasanya pangeran kedua dari Sultan yang bertahta (adik putera mahkota), tetapi jika putera kedua tidak ada maka akan dijabat oleh putera selir atau saudara Sultan /*
Koalisi pasukan Sultan Hamengkubuwono I, Mangkunegara I, dan VOC pun akhirnya benar-benar bergerak bareng mengepung Pakubuwana IV di Surakarta pada November 1790. Peristiwa ini disebut Pakepung, artinya pengepungan. Paku Buwono IV langsung tunduk menyerah dan membiarkan ulama-ulama yang menjadi penasihat spiritualnya itu disingkirkan oleh VOC. Kemudian Pakubuwana IV, Hamengkubuwana I, dan Mangkunegara I bersama-sama menandatangani perjanjian yang menegaskan bahwa kedaulatan Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran setara, dan dilarang saling menaklukkan.
Sepuluh tahun berikutnya (tahun 1800), VOC dibubarkan oleh Kerajaan Belanda karena bangkrut, sebagai gantinya dibentuk yang namanya “Pemerintahan Hindia Belanda” (Dutch East Indies) dipimpin Gubernur Jendral. Herman Willem Daendels (1808 – 1811) adalah Gubernur Jendral pertama, diangkat langsung oleh Napoleon Bonaparte. Saat itu Belanda dikuasai Perancis.
*/ Ketika Daendels berkuasa di Hindia Belanda, Yogyakarta sudah beralih ke Sultan Hamengkubuwono II, dan mulai dari periode ini hingga Daendles digantikan Raffles terjadi serangkaian intrik berdarah-darah yang kemudian berujung pada dikobarkannya perang besar di Tanah Jawa oleh kemarahan Pangeran Diponegoro, anak Hamengkubuwono III. Intrik yang kemudian menyeret Pangeran Diponegoro bermula ketika Sir Thomas Stamford Raffles tiba di Yogyakarta membawa pasukan bertujuan melengserkan Hamengkubuwono II untuk digantikan putera mahkota yang tak lain adalah ayah dari Pangeran Diponegoro. Sebelum mengultimatum Hamengkubuwono II untuk lengser, Stamford Raffles telah menghubungi putera mahkota melalui anaknya yaitu Pangeran Diponegoro. Apa yang sesungguhnya terjadi? Ngomong apa Raffles kepada Diponegoro?
