Moksa umumnya diartikan menghilang dengan “raganya lenyap begitu saja”. Ini merupakan laku spritualitas Hindu, dan moksa yang disertai dengan lenyapnya raga ini adalah moksa tertinggi tingkatannya, disebut moksa purnamukti. Lenyap kemana? Lenyap naik ‘suuuuuuuut’ ke langit menyatu denganNya Sang Pencipta Alam Semesta melalui prosesi pertapaan di suatu tempat, biasanya gunung atau perbukitan nan sunyi senyap. Tidak semua orang bisa melakukannya, tidak sembarang orang.
Moksa ini identik dengan beberapa tokoh sejarah di sini, yaitu:
- Prabu Siliwangi sang penguasa Pajajaran. Beliau ketimbang dipaksa masuk Islam lebih memilih menyingkir dari kerajaan, bertapa, dan moksa. Sebelum bertapa moksa beliau berpesan pada rombongan pengikutnya untuk memilih sesuai kata hati masing-masing, maksudnya memilih untuk masuk Islam atau tetap Hindu.
- Prabu Brawijaya V penguasa terakhir Majapahit. Beliau menyingkir ke Gunung Lawu untuk bertapa moksa setelah kerajaannya dihancurkan oleh pemberontakan adipati Kediri. Beragam versi tentang hilangnya Brawijaya V. Ada yang mengatakan moksanya setelah mualaf melalui Sunan Kalijaga. Ada versi lain (serat Dharmagandul) mengatakan beliau menyingkir setelah kerajaannya hancur akibat pemberontakan itu untuk kemudian diam-diam menjadi rakyat biasa setelah masuk Islam melalui keturunannya (cucu) yaitu Sunan Kalijaga, kemudian meninggal di Trowulan dimakamkan dekat Segaran. Dia berwasiat kepada Sunan Kalijaga untuk menamakan makamnya Makam Sastra Wulan.
- Mahapatih Gadjah Mada. Ada dua versi mengenai masa akhir dari Mahapatih Gajah Mada, yaitu pertama dia diceritakan mengalami sakit dan pada akhirnya meninggal dunia pada tahun 1364. Hal ini seperti yang tertulis pada Kitab Kakawin Nagarakretagama. Versi kedua adalah Mahapatih Gajah Mada melarikan diri setelah terjadinya Perang Bubat, yaitu perang antara Kerajaan Pajajaran dari Negeri Sunda dengan Kerajaan Majapahit. Gajah Mada dituding sebagai penyebab utama terjadinya perang. Sebelum tertanggakap dan diadili atau dibunuh, Gajah Mada melakukan yoga samadi dan moksa nggak balik-balik lagi hingga sekarang.
- Prabu Jayabaya. Walaupun menjadi raja terkenal dan berhasil membuat kerajaan yang diperintahnya memasuki zaman keemasan, rasa berdosa dan bersalah karena telah membunuh saudaranya sendiri yaitu Jayabasha terus menghantui Jayabaya. Kesaktiannya menjadi seorang pinilih menurut agama Hindu membuatnya tidak pernah meninggal karena dia dapat melalui proses kematian dengan cara moksa. Jayabaya menghilang begitu saja lenyap tanpa jejak setelah melakukan tapa moksa di Desa Menang, Kabupaten Kediri.
Tapi moksa bukan hanya identik dengan beberapa tokoh di sini, di Timur Tengah juga ada yaitu Isa bin Maryam. Julukannya Isa Al Masih, artinya Isa sang Juru Selamat (mesias). Beliau lenyap raganya disedot naik ditarik ke langit oleh Allah SWT sebelum disalib. Lantas yang disalib itu siapa? Orang lain yang olehNya diserupakan.
Tapi tentu ini bukan satu-satunya versi tentang lenyapnya Isa Al Masih. Ada juga yang mengatakan beliau mengembara hingga suatu tempat di India dan meninggal dimakamkan di sana.
Pendapat Buya Hamka sebagai berikut:
“Mengenai bagaimana Nabi Isa wafat, ada berbagai versi. Salah satunya adalah, sebelum wafat Nabi Isa bersama ibunya mengungsi keluar dari Palestina, beliau tidak naik ke langit melainkan pergi keluar negerinya sendiri karena diselamatkan Allah. Beliau dan ibunya ke satu tempat yang tinggi (QS. Al-Mukminum (23) : 50).”
– HAMKA
Tempat tinggi itu, ada pendapat yang menyatakan daerah tersebut adalah Kashmir India.
Nah, bebas-bebas saja mau pilih mengimani yang mana.
