Tokoh Ki Ageng Sela dikisahkan punya kesaktian mampu menangkap petir. Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, diceritakan bahwa pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun dengan kesaktiannya dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut berwujud naga. Ki Ageng Sela mengikatnya ke sebuah pohon Gandrik.
Ketika dibawa kepada Sultan Demak, naga tersebut berubah menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dikerangkeng oleh Sultan dan menjadi tontonan di alun-alun. Kemudian datanglah seorang nenek mendekat, lalu menyiram air dari sebuah kendhi ke arah kakek tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dan kakek nenek tersebut menghilang.
Dari kisah tersebut berkembang mitos kalimat, “Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo” yang artinya, “Gandrik, saya ini cucunya Ki Ageng Selo.” Kalimat itu, bagi sebagian penduduk daerah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu misalnya, dipercaya dapat menghindarkan mereka dari sambaran petir ketika hujan datang.
Sigit Prawoto, dosen Antropologi Sosial dan Etnologi Universitas Brawijaya, dalam bukunya Hegemoni Wacana Politik menyebut, “pernyataan klaim kekeluargaan ini mengandung keyakinan kultural bahwa seseorang yang berasal dari keturunan orang yang memiliki kualitas (kasekten) tertentu akan mewarisi kualitas tersebut.” – Historia: Ki Ageng Selo, Sang Penangkap Petir
Siapa Ki Ageng Sela?
Raja terakhir Majapahit Brawijaya V memiliki permaisuri bernama Ratu Dwarawati, dari Campa. Jumlah selirnya banyak sekali dan dari para selir itu lahirlah antara lain Arya Damar bupati Palembang, Raden Patah bupati Demak (kelak menjadi Sultan Demak I), Batara Katong bupati Ponorogo, serta Bondan Kejawan.
Raden Bondan Kejawan adalah anak ke 14 namun tidak diakui sebagai bagian dari keluarga kerajaan sebab ibunya bernama Wandan Sari adalah dayang (pelayan) permaisuri. Ketika putri Wandan Sari ini melahirkan anak dari benih Prabu Brawijaya, bayi tersebut diberikan kepada Ki Buyut Masahar dengan pesan agar dilenyapkan karena menurut ramalan para ahli nujum anak ini kelak akan membawa keburukan bagi Kerajaan Majapahit. Akan tetapi anak ini justru dipelihara oleh Ki Buyut Masahar.
Suatu ketika Ki Buyut Masahar menghadap ke Majapahit dan Bondan Kejawan ini ikut. Ketika Ki Buyut Masahar sibuk dalam pisowanan, Bondan Kejawan bermain-main memukul-mukul gong Kyai Sekar Delima pusaka Keraton Majapahit. Atas kelancangannya itu Bondan Kejawan ditangkap dan diseret dibawa ke hadapan Prabu Brawijaya yang lantas memberinya hukuman mati. Ki Buyut Masahar kemudian menjelaskan siapa anak itu sesungguhnya sehingga akhirnya Prabu Brawijaya pun tahu bahwa Bondan Kejawan tak lain adalah anaknya sendiri dan hukuman mati pun dibatalkan. Bondan Kejawan kemudian malah diberi hadiah berbagai senjata pusaka yang salah satunya berupa tombak bernama Kyai Pleret.
Bondan Kejawan kemudian oleh Brawijaya disuruh berguru kepada Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub ini suami Dewi Nawangwulan, mereka memiliki putri bernama Nawangsih yang kemudian dikawinkan dengan Bondan Kejawan dan melahirkan Ki Ageng Getas Pendawa. Selanjutnya Ki Getas Pendawa punya anak bernama Ki Ageng Sela.
Ki Ageng Sela punya 7 anak, dari anaknya yang terakhir bernama Ki Ageng Enis lahirlah dua anak yaitu Ki Ageng Pemanahan (Ki Gedhe Mataram) dan Ki Ageng Karatongan.
Ki Ageng Pemanahan (Ki Gedhe Mataram) punya 26 anak, salah satunya adalah Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati.
Alas Mentaok yang diberikan oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) kepada Ki Ageng Pamanahan atas jasa Sutawijaya membunuh Arya Penangsang itu kemudian pada tahun 1556 dibabatnya dibantu Ki Juru Martani untuk dijadikan desa bernama Mataram dan menjadi Kepala Desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Alas Mentaok tidak lain adalah wilayah bekas Kerajaan Mataram Kuno (Medang) penguasa Jawa Tengah bagian selatan abad 8 – 10 Masehi. Setelah Kerajaan Mataram Kuno memindahkan pusat kerajaannya ke daerah Jawa Timur akhirnya terbengkalai dan lama kelamaan tertutup selama ratusan tahun oleh pepohonan menjadi hutan belantara lebat dan oleh penduduk disebut Alas Mentaok. Beberapa peninggalan Mataram Kuno adalah Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.
*/ Candi Prambanan dibangun oleh Raja Medang Rakai Pikatan (Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku) tahun 850 Masehi, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu. Pada sekitar tahun 930an ibu kota Medang dipindah ke Jawa Timur oleh Sri Maharaja Mpu Sindok. Penyebab kepindahan diduga kuat adalah terjadinya letusan hebat Gunung Merapi yang menjulang sekitar 20 kilometer di utara candi Prambanan. Peristiwa meletusnya Merapi itu dikenal dengan sebutan Pralaya Mataram. Pralaya artinya bencana dahsyat. Perpindahan ibu kota kerajaan itu menyebabkan candi Prambanan mulai terlantar dan tidak terawat dan pelan-pelan mulai runtuh. Beratus-ratus tahun berikutnya warga sekitar Alas Mentaok itu telah mengetahui keberadaan Candi Prambanan namun tidak tahu asal-usulnya, lantas muncul kisah khayalan fantastis tentang Bandung Bondowoso, mengenai raja raksasa Prabu Baka, ribuan candi dibangun oleh makhluk halus jin dan dedemit dalam tempo satu malam, serta putri cantik Roro Jonggrang dikutuk menjadi arca */
- Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
- Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
- Babad Tanah Jawa Versi Mangkunegaran
- The Kartasura Dinasty – Genealogy, Christopher Buyers, October 2001 – September 2008
- H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
- Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
- Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
- Rahardjo, Supratikno (2002). Peradaban Jawa, Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno (dalam bahasa Indonesia). Komuntas Bambu, Jakarta. hlm. 35. ISBN 979-96201-1-2.
- Media, Kompas Cyber (2012-02-18). “Kisah Mataram di Poros Kedu-Prambanan
- Prasasti Canggal : Prasasti Tertua Di Jawa Yang Berangka Tahun
- Merapi and the demise of the Mataram kingdom
