Ada dua versi tutur tinular tentang awal mula konflik terbuka Jaka Tingkir VS Arya Penangsang.
Versi pertama mengatakan bahwa setelah Sultan Trenggana (Sultan Demak III) wafat, Sunan Prawata enggan mewarisi tahtanya meskipun beliaulah yang memang berhak sebagai anak tertua. Prawata lebih memilih “madeg pandito”. Jaka Tingkir sebagai menantu Sultan Trenggana melihat itu sebagai kesempatan untuk mengklaim tahta Demak lalu memindahkannya ke Kadipaten Pajang. Semua pihak yang protes berhasil ditundukkannya, kecuali Arya Penangsang penguasa Kadipaten Jipang yang kemudian membuat klaim tandingan bahwa Kadipaten Jipang penerus Kesultanan Demak.
Versi kedua (mainstream) mengatakan bahwa Prawata sempat dinobatkan menjadi Sultan Demak IV, kemudian Arya Penangsang membunuhnya, mengambil alih tahta Demak, dan memindahkan pusat pemerintahan ke Kadipaten Jipang.
Ratu Kalinyamat penguasa Kadipaten Jepara tidak terima Prawata kakaknya itu dibunuh orang suruhan Arya Penangsang, lantas meminta suaminya (Pangeran Hadliri) menemui Sunan Kudus minta keadilan karena keris yang menancap di tubuh Prawata milik Sunan Kudus. Sunan Kudus menjawab bahwa pembunuhan itu wajar sebagai balasan karena Prawata membunuh ayah Arya Penangsang yaitu Raden Kikin (Pangeran Seda Lepen) untuk memberi jalan agar ayahnya, yaitu Trenggana, naik tahta. Dalam perjalanan pulang dari kediaman Sunan Kudus itu Pangera Hadliri dibunuh oleh orang-orang utusan Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat lantas menemui adik iparnya, yaitu Jaka Tingkir, memintanya membalas dendam kematian pangeran Hadliri suaminya dan Prawata kakaknya. Jaka Tingkir setuju tapi tidak berani berperang secara frontal menyerbu Kadipaten Jipang, itu makanya kemudian membuat sayembara pembunuhan Arya Penangsang dengan hadiah hutan Mentaok yang dimenangkan duet Ki Ageng Pemanahan – Ki Juru Martani.
Sultan Demak II Pati Unus (Yat Sun 1518-1521) tewas dalam pertempuran di Malaka melawan Portugis. Putera mahkota Raden Patah (Jin Bun 1478–1518) itu tidak punya keturunan, maka tahta menjadi rebutan antara Raden Kikin alias Pangeran Seda Lepen (ayahanda Arya Penangsang) VS Trenggana (ayahanda Prawata). Trenggana merasa berhak mewarisi tahta karena dia adik Pati Unus, sedangkan Raden Kikin merasa berhak karena dia anak sulung Sultan Demak I Raden Patah dari rahim permaisuri yang juga cucu Sunan Ampel (Bong Swi Hoo 1401-1481).
Prawata mengirim orang untuk membunuh Raden Kikin selepas sholat Jumat, maka Trenggana sang ayahandanya pun naik tahta.
Dalam Babad Tanah Jawi kelihatan Sunan Kudus menjadi arsitek perebutan tahta Demak. Pembunuhan Prawoto adalah gagasan Sunan Kudus. Sunan Kudus juga meminta Arya Penangsang membunuh Jaka Tingkir, tapi orang-orang yang dikirimnya gagal. Dalam konflik Pajang VS Jipang itu Sunan Kudus, kala itu menjabat Imam Besar Masjid Demak, memihak Arya Penangsang, kenapa?
Jaka Tingkir adalah anak Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging, pengikut dan penyebar ajaran Syeh Siti Jenar yang dianggap sesat oleh Sunan Kudus pesaingnya. Kebo Kenanga dihukum mati di era Raden Patah karena dengan tetap menyebarkan ajaran terlarang Syeh Siti Jenar itu dia dituduh telah memberontak. Kebo Kenanga menikah dengan Nyai Ratu Mandoko putri Sunan Kalijaga dan punya anak diberi nama Mas Karebet, nama Jaka Tingkir di masa kecil dalam asuhan Nyi Ageng Tingkir. Tidak jelas siapa mengeksekusi mati Kebo Kenanga. Ada yang mengatakan ditusuk Sunan Kudus, ada yang mengatakan mati dengan caranya sendiri di hadapan Sunan Kudus, tapi pastinya atas perintah Raden Patah. Ayah Jaka Tingkir dibunuh Raden Patah, kakek dari isterinya, karena menyebar ajaran Syeh Siti Jenar.
Selain itu sejarawan de Graaf mengatakan Sunan Kudus tidak senang Jaka Tingkir juga berguru ke Sunan Kalijaga selain ke dirinya. Sering terjadi perbedaan antara Sunan Kudus dan Kalijaga. Pada tahun 1543 keduanya berbeda pandangan soal penentuan awal mula Ramadhan. Sultan Trenggana mengikuti pandangan Sunan Kalijaga, akibatnya Sunan Kudus memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Imam Besar Masjid Demak. Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga diangkat oleh Sultan Trenggana menggantikan jabatan Sunan Kudus tersebut dan diberi bonus berupa lahan di Kadilangu untuk berdakwah.
Tapi tentu saja, oleh pihak-pihak yang mengkultuskan Walisongo seperti biasanya, versi sejarawan Belanda macam H.J. de Graaf ini akan selalu dicurigai sebagai upaya ilmuwan kafir penjajah mendiskredit Islam, padahal sumber dia Babad juga. Menurutnya Babad Tanah Jawi punya kandungan fakta, yaitu mulai dari bagian tengah hingga akhir. Secara historiografis sumber tradisional apapun itu, termasuk Babad Tanah Jawi, bisa menjadi faktual dengan memahami dulu konteksnya.
- Image Credit: Warrior Illustration by WallpaperFace
