Kiprah Sultan Agung diawali dengan membasmi pemberontakan Pajang.
Tahun 1618 Sultan Agung Mataram menggempur pemberontakan Pajang. Kesultanan Pajang yang mulai surut pamornya setelah Sultan Hadiwijaya wafat paska perang Mataram VS Pajang pada 1575, benar-benar berakhir setelah pemberontakannya digempur Sultan Agung Mataram ini. Sejak itu seluruh kawasan Pajang dijadikan bawahan Mataram.

Perang Mataram VS Pajang dipicu sebuah peristiwa yaitu Raden Pabelan, keponakan Sutawijaya (Panembahan Senopati) pendiri Mataram, pada suatu hari tewas setelah kedapatan menyelinap ke keputren untuk diam-diam berbuat “tak senonoh” dengan Sekar Kedaton putri bungsu Sultan Hadiwijaya.
Raden Pabelan yang memang sudah terkenal hidung belang adalah anak Tumenggung Mayang, suami dari kakak Sutawijaya pendiri Mataram. Sultan Pajang bukan hanya membunuh Raden Pabelan tapi juga menghukum Tumenggung Mayang dengan membuangnya ke Alas Roban bersama isterinya.
Sultan Agung menundukkan Madura.
Tahun 1624 Sultan Agung Mataram menundukkan Madura (Perang Puputan), lantas mengangkat bangsawan lokal Cakraningrat sebagai penguasa Madura kepanjangan tangan Mataram berkedudukan di Sampang. Sejak itu Madura menjadi kerajaan “boneka” Mataram. Dari sini belakangan muncul Pangeran Trunojoyo yang kelak bersekutu dengan pasukan Sultan Hasanudin Makasar menggempur Mataram (era Sunan Amangkurat I, anak Sultan Agung) di Plered yang bersekutu dengan VOC.
Persekutuan antara Amangkurat I dan VOC ini kelak dibayar sangat mahal, yaitu pecahnya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Paska pecah ini konflik dengan VOC kemudian bergeser ke Yogyakarta, terutama Perang Diponegoro 1825-1830.
Sultan Agung menyerang VOC di Batavia.
Tahun 1628 dan 1629 Sultan Agung menyerang VOC di Batavia dua kali. Pada penyerbuan kedua, Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen tewas ditebas kepalanya oleh pasukan Adipati Ukur, lantas kepala itu ditanam di bawah salah satu tangga makam raja-raja Mataram Imogiri. Sementara itu pihak Kerajaan Belanda mengatakan Jan Pieterszoon Coen sang pemberi nama Batavia itu tewas karena terkena wabah kolera, dimakamkan di Stadhius (kini Museum Sejarah Jakarta) lalu dipindah ke de Oude Hollandsche Kerk (kini Museum Wayang).
Sultan Agung menundukkan Giri Kedaton.
Tahun 1636 Sultan Agung Mataram menggempur Giri Kedaton, Gresik, yang didirikan oleh Sunan Giri. Peristiwa ini menandai runtuhnya hegemoni Walisongo dalam politik kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Meskipun kecil hanya sewilayah Gresik, Giri Kedaton ini berupa kerajaan-pesantren yang didirikan oleh salah satu Walisongo sehingga besar pengaruhnya di Nusantara. Raja-raja dari kerajaan-kerajaan Islam merasa belum afdol keIslamannya kalau tidak direstui penguasa Giri Kedaton.
Hegemoni spiritual Walisongo ini berakhir setelah Giri Kedaton tunduk dijadikan bagian dari Kesultanan Mataram oleh Sultan Agung.
[sourcelink link=”https://nasional.okezone.com/read/2023/04/19/337/2801084/kisah-sultan-pajang-kabur-usai-kalah-perang-melawan-pasukan-gaib-mataram”]
[sourcelink link=”https://tirto.id/sejarah-runtuhnya-kerajaan-giri-kedaton-oleh-mataram-islam-gcQX”]
