Wage Komposer Sekaligus Jurnaslis Buron Rejim Kolonial.
Tambaksari adalah tempat persembunyiannya terakhir sebelum ditahan rejim kolonial, disiksa. Dalam statusnya sebagai buron kolonial, sepanjang tahun itu Wage lari berpindah-pindah tempat dari Batavia, Cimahi, Bandung, Pemalang. Begitu terus dia bolak-balik pada pertengahan 1930an. Dia dikejar-kejar (buron) oleh rejim kolonial bukan hanya karena lagu-lagu ciptaannya dianggap membahayakan, khususnya lagu Indonesia Raya; namun juga banyak tulisannya sebagai jurnalis di koran Tionghoa Sin Poo dianggap memberontak.
Koran Sin Poo jugalah yang pertama kalinya “menyiarkan” syair lagu Indonesia Raya, lagu yang belakang hari menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia. Wage seorang komponis sekaligus wartawan pemberani. Wage seorang muslim Ahmadiyah, tambahan kata Rudolf dalam namanya adalah pemberian kakaknya ketika SMP semata-mata agar dia diterima di sekolah Belanda.

Soetomo Girang Bertemu Wage
Pertama kalinya Wage menginjakkan kakinya di Surabaya sudah dalam kondisi lelah fisik dan letih mental akibat pelariannya. Semasa di Surabaya tinggal di Tambaksari dikawal Oerip Kasansengari dan beberapa “orang pergerakan” Boedi Oetomo. Oerip ini masih kerabat Wage. Keberadaannya di Surabaya ini memungkinkan Wage bertemu dr. Soetomo, sesuatu yang ingin dilakukannya sejak 10 tahun sebelumnya bertemu Soekarno (Bung Karno) di Bandung.
dr. Soetomo girang bukan kepalang ditemui Wage, lantas memberinya waktu untuk orasi sebagai “keynote speaker” dalam setiap forum rutin di GNI (Gedung Nasional Indonesia) yang dikelola dr. Soetomo. Saat-saat itu dr. Soetomo adalah tokoh senior pergerakan, sedangkan Wage dan Bung Karno barulah anak-anak muda yang sedang semangat-semangatnya.
Matahari Terbit Lagu Wage Terakhir.
Dalam persembunyiannya itu di Surabaya Wage menciptakan lagu anyar berjudul Matahari Terbit, lagu yang nantinya menjadi karya terakhir sekaligus yang nanti menghantarkannya menjadi martir perjuangan. Wage dalam lagu ini menyuguhkan lirik optimistis tentang harapan Indonesia merdeka, sesuatu yang tabu dibicarakan saat itu. Belakangan keberadaan Wage tercium intelejen kolonial Hindia Balanda, namun dia tidak ditangkap saat itu juga meskipun bolak-balik lagu Matahari Terbit berdendang:
Matahari sudah terbit. Putra ibu lekas bangun. Lihat cahaya yang mulia. Lekas bangun, lekas bangun. Hei putraku yang berbudi. Putra ibu yang sejati. Mari lihat cahaya yang mulia. Indonesia tanah airku 4x
Wage Rudolf Supratman
Wage Terpancing dan Tertangkap.
Tampaknya rejim kolonial butuh bukti untuk menangkap Wage, sedangkan membawa lagu dalam pertemuan terbatas sulit menjadi dasar untuk menangkapnya. Kemudian dalam suatu peristiwa Wage terpancing keluar ‘kandang’. Dia bersama sejumlah orang pengawalnya dalam organisasi Kepanduan Surabaya memenuhi undangan Radio NIROM di Embong Malang. Melalui corong NIROM Wage mengudarakan lagu Matahari Terbit. Rupanya di luar studio puluhan polisi Hindia Belanda sudah siap-siap, begitu Wage keluar studio langsung diringkus, dimasukkan mobil, langsung dikirim ke penjara Kalisosok.
“Wage diinterogasi dalam kondisi sakit dan disiksa,” kata Soerachman, ahli waris Wage.
Wage Rudolf Soepratman (lahir 19 Maret 1903 – meninggal 17 Agustus 1938 pada umur 35 tahun) adalah guru, wartawan, violinis, dan komponis Hindia Belanda. Ia dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”, serta merupakan anggota dari grup musik jazz Black and White Jazz Band. Tanggal lahirnya, 9 Maret, ditetapkan sebagai hari musik nasional.
Hanya Wage Komposer Pahlawan Nasional.
Wage dinobatkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden Soeharto pada 1971. Berikut adalah lagu-lagu gubahan Wage Rudolf Supratman:
- Dari Barat Sampai Ke Timur, 1926.
- Indonesia Raya, 1928.
- Indonesia Ibuku, 1928.
- Bendera Kita Merah Putih, 1928.
- Bangunlah Hai Kawan, 1929.
- R.A. Kartini (sekarang Ibu Kita Kartini), 1929.
- Mars KBI (Kepanduan Indonesia), 1930.
- Di Timur Matahari, 1931.
- Mars Parindra, 1937.
- Mars Surya Wirawan, 1937.
- Matahari Terbit, 1938.


