Oleh: KRT. Agus Istijantonagoro.
Menyusuri jalan Thamrin dari arah Istana, kita akan melihat tugu menjulang. Orang menyebutnya Tugu Selamat Datang. Patung sepasang muda-mudi berada di pucuknya dengan seikat bunga tampak melambaikan tangan seolah mengucapkan selamat datang pada kita dengan penuh antusias.
Untuk itulah memang tugu di depan Hotel Indonesia itu dirancang. Mengucapkan selamat datang bagi para delegasi peserta Ganefo (Games of the New Emerging Forces), pesta Olahraga dari Kekuatan Negara-negara Sedang Berkembang. Hampir tak bisa menjelaskan tugu Selamat Datang tanpa menjelaskan Ganefo. Tugu itu memang berkelindan dengan Ganefo.
Tugu Selamat Datang di Bunderan HI Menyambut Ganefo.
Perang Dunia II melahirkan Republik Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dunia terbelah dua. Kekuatan negara-negara blok Timur yang dipimpin oleh Negara Kesatuan Sovyet Rusia ( USSR ) dan negara-negara blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Blok Barat diam-diam memusuhi blok Timur yang bercorak sosialis. Blok Timur diam-diam memusuhi blok Barat yang bercorak kapitalis dan para bekas penjajah.
Indonesia yang baru merdeka terang-terangan tidak memusuhi blok barat mau pun blok Timur. Indonesia mengajak negara-negara Asia dan Afrika yang juga baru merdeka untuk bersikap sama. Musuh Bersama negara-negara Asia dan Afrika adalah penjajahnya. Kolonialisme baru dan Imperialisme baru. Oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno, disebut sebagai nekolim (neo-colonialism dan neo-imperialism).
Negara-negara Asia Afrika menjadi kekuatan ketiga yang berwibawa diantara dua kekuatan lain, blok Barat dan blok Timur. Untuk mempererat persahabatan antar negara-negara yang sedang berkembang menjadi kekuatan ketiga di dunia itu diselenggarakan Ganefo atas inisitaip Bung Karno. Ganefo merupakan proyek ambisius untuk menandingi Olimpiade.
Tak kurang dari 51 negara mengikuti Ganefo 10-22 Nopember 1963 di Jakarta. Para delegasi mendarat di bandar Udara Kemayoran – dulu Cengkareng masih rawa-rawa, Halim pangkalan udara militer – Dari Kemayoran delegasi dibawa ke hotel Indonesia melintasi depan Istana. Di depan Hotel Indonesia disambut hangat Tugu Selamat Datang. Tugu Selamat Datang sangat terkenal sampai hari ini. Bahkan yang tidak pernah ke Jakarta pun sering mengenalnya.
Tapi orang Jakarta yang setiap hari berseliweran di bawah tugu itu sekali pun belum tentu kenal siapa perempuan di pucuk tugu itu.
Siapa Perempuan Patung di Bunderan HI.
Dia adalah S Tina! Bintang yang sedang terbit tempo itu. Pemeran Rara Mendut dalam Film Rara Mendut dan Pranacitra. Membintangi film Dikun dan Sayem dan film-film lainnya. Lahir di Yogyakarta, 28 September 1943 dengan nama Elisabeth Tina. Para tetangga di kampung Tegalmulyo, memanggilnya Sutinah.
Ayahnya – Mulyo Hartono – bekerja di Bioskop Soboharsono, Yogyakarta. Ibunya – Zunainah Masduki – penggemar film dan pengagum berat Grace Kelly, bintang Hollywood yang disunting Pangeran Reiner dari Kerajaan Monaco. Zunainah memimpikan anaknya kelak seperti Grace Kelly. Dari SMA Bopkri I Tina dikirm ke Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta. Akademi yang melahirkan actor Maruli Sitompol, Kusno Sudjarwadi, dan sutradara Teguh Karya.
Suatu sore, seorang utusan dari Gedung Agung (Istana Presiden di Yogyakarta) datang menemui Zunainah di rumahnya. Meminta Zunainah dan Tina menghadap Presiden Soekarno di Gedung Agung. Betapa bahagianya Zunainah. Seolah mimpinya telah begitu dekat.
Pada hari yang telah ditentukan Zunainah berdandan dengan kebaya dan kain terbaik seperti layaknya priyayi Ngayogya. Tina pamit keluar membeli bedak. Tapi sampai menjelang jamnya Tina tidak kunjung pulang. Ibunya gelisah bukan kepalang.
Sumardi, adik Tina, disuruh mencari Tina, tapi tidak jumpa. Lalu disuruhnya Kusno Sudjarwadi yang kos di rumahnya. Tentu saja Kusno tidak sulit menemukannya. Tina sedang shooting dengan aktor flamboyan, Djoni Trisna. Zunainah murka, melabrak Tina di lokasi shooting dan menyeretnya pulang. Tapi sudah terlambat. Mimpi Zunainah telah hancur berkeping-keping.
Djoni Ttrisna tidak hanya seorang actor. Ia juga pelukis dan pematung di Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta. Bersama seniornya, Trubus, ia mengerjakan tugu Selamat Datang. Djoni memilih kekasihnya – Tina – sebagai model. Dengan demikian, Tugu Selamat Datang merupakan monument cinta Djoni Trisna (40 th) yang amat besar pada Tina (19 th).
Seorang seniman yang membuat patung kekasihnya berdiri megah di jantung ibukota. Tugu Selamat datang adalah monument cinta paling spektakuler sepanjang sejarah. Percintaan besar itu berujung perkawinan Tina dan Djoni Trisna, tanpa restu ibunya.
Mereka dikaruniai 3 orang anak: Suzana Disa Tristini; Yonas Handoko dan Maria Lisya Dirgayanti. Setelah tragedi berdarah 1965 nama mereka lenyap dari peredaran. Rumah tangganya hancur berantakan. Elisabeth Tina wafat di Jakarta tahun 2006, di akhir hidupnya masih sempat membuat pertunjukan drama yang sangat memukau dalam peringatan paskah di gerejanya.
Karya itu disimpan rapih oleh anaknya – Maria – sampai hari ini.


