Pertama kalinya gelombang revolusi industri masuk Yogyakarta adalah atas prakarsa Sultan Hamengkubuwono VII (HB VII) memanfaatkan momentum penghapusan Tanam Paksa (cultuurstelsel) yang oleh pemerintah kolonial kemudian diganti menjadi sistem ekonomi liberal. Sepanjang 40 tahun kekuasaannya (13 Agustus 1877 – 30 Januari 1921), langkah liberalisasi oleh kolonial tersebut dimanfaatkan HB VII untuk membangun ekonomi.
Wilayah Kesultanan Yogyakarta (Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat) meliputi pula Madiun, Magetan, Caruban, Pacitan, Kertosono, Surabaya, Mojokerto, Rembang, Semarang. Pada masa pemerintahan HB VII, 17 pabrik gula didirikan di wilayah Kesultanan, beberapa di antaranya milik Belanda.
Salah satu pabrik gula tersebut adalah Gondanglipuro, Ganjuran, Bantul. Pabrik gula ini dipimpin oleh Julius Schmutzer yang istrinya memimpin peresmian peletakan batu pertama berdirinya RS. Panti Rapih pada 15 September 1928 bersama perwakilan Ordo Katolik Carolus Borromeus cabang Kesultanan Yogyakarta.
Madukismo bukan satu-satunya pabrik gula di Kesultanan Yogyakarta.
Dari pabrik-pabrik gula yang bukan milik Kesultanan, HB VII berhak menerima setoran uang sebanyak 200 ribu florin. Selain itu HB VII juga memperoleh pendapatan sewa dari lahan yang dijadikan jalur transportasi tebu dari perkebunan Belanda ke pabrik-pabrik gula. Selain pabrik gula (PG) Gondanglipuro di Ganjuran Bantul tersebut masih ada beberapa pabrik gula lain yaitu PG Medari, PG Beran, PG Cebongan, PG Demakijo, PG Rewulu, PG Sedayu, PG Kalasan, PG Randugunting, dan PG Wonocatur.
Dalam waktu relatif singkat, pemasukan-pemasukan itu membuat Kesultanan Yogyakarta makmur ekonominya. HB VII dipandang sebagai pioner bagi lahirnya modernisasi di Yogyakarta. Berbagai sekolah moderen didirikan untuk menampung pendidikan keluarga Belanda pegawai pabrik-pabrik gula.
Modal ekonomi untuk berperan dalam gerakan politik kebangkitan nasional.
HB VII juga memanfaatkan kekayaan hasil liberalisasi itu untuk berperan besar bagi peletakan dasar-dasar gerakan politik “kebangkitan nasional” dan pendidikan di wilayahnya lebih lanjut. HB VII mengizinkan kawasan Malioboro dipakai untuk kongres pertama Boedi Oetomo tahun 1909. Boedi Oetama itu sendiri diinisiasi oleh lulusan Stovia dr. Wahidin Sudirohusodo, warga Mlati, Sleman, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ketika Sarekat Islam pecah pada tahun 1914, masing-masing pihak bermarkas di wilayah Kesultanan. Basis golongan Kanan pimpinan Haji Agus Salim dan Kartosoewirjo di kota Yogyakarta, sementara golongan Kiri (Islam Komunis) berbasis di Semarang di bawah kendali Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin. Sarekat Islam kelompok Kanan pada tahun 1913 menjalin kerjasama dengan Muhammadiyah, oleh kelompok Kiri itu disebut sebagai perkongsian Islam Kapitalis. Memang Sarekat Islam itu sendiri pada mulanya didirikan oleh Samanhudi dan Tirto Adhi Soerja pada tahun 1905 sebagai sarekatnya orang-orang Islam pedagang (dus dituding kapitalis), bernama Sarekat Dagang Islam (SDI).
Kelompok Islam Komunis yang bermarkas di Semarang itu kemudian mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia pada Mei 1920.
Melindungi Muhammadiyah sehingga diijinkan berdiri oleh rejim kolonial.
HB VII bukan hanya menyambut baik gagasan abdi dalemnya bernama Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, tapi bahkan juga melindunginya sehingga diijinkan berdiri oleh rejim kolonial. Ahmad Dahlan adalah abdi dalem yang disekolahkan oleh HB VII ke Arab Saudi. Sepulang dari sana Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman pada November 1912.
Gagasan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah bermula dari keinginan HB VII mendirikan sekolah khusus pribumi. Kauman itu sendiri adalah wilayah internal keraton yang oleh Sultan difungsikan untuk urusan-urusan keagamaan.
Selain mengirim Ahmad Dahlan ke Arab Saudi, HB VII juga menyekolahkan putra-putrinya ke Eropa hingga aksesnya terhadap lingkungan bangsawan di sana semakin berakar. Koneksitas ke lingkaran elit Eropa ini memungkinkan penerusnya untuk punya daya tawar lebih kuat berhadapan dengan rejim kolonial di kawasan Hindia Belanda. Sekolah berikutnya yang lahir setelah HB VII lengser adalah Taman Siswa pada 3 Juli tahun 1922 oleh bangsawan Pakualaman Ki Hajar Dewantara.
[sourcelink link=”https://sinergia.web.id/portal/blognesia/bagiku-suster-sudah-seperti-ibu-meskipun-bangsaku-berperang-melawan-bangsa-suster/”]
