Tidak cukupnya tenaga kesehatan untuk menghadapi berbagai macam wabah penyakit di wilayah jajahannya memaksa pemerintah kolonial Belanda mendirikan pendidikan mantri kesehatan pada 2 Januari 1849 di sebuah Rumah Sakit Militer (sekarang RSPAD Gatot Subroto). Pada tanggal 5 Juni 1853 pendidikan mantri kesehatan diubah menjadi Sekolah Dokter Djawa, dengan masa pendidikan tiga tahun. Lulusannya diberi gelar “Dokter Djawa”, walau inti pekerjaannya hanyalah sebagai mantri cacar.
Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa ini diperbaiki dan disempurnakan kurikulumnya. Pada 1889 namanya diubah menjadi Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi, lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen / Sekolah Dokter Pribumi). Pada tahun 1913 kata Inlandsche (pribumi) diganti dengan Indische (Hindia) sebab sekolah ini kemudian dibuka untuk siapa saja, termasuk warga keturunan Timur Asing dan Eropa (sebelumnya khusus penduduk pribumi). Mahasiswa STOVIA mendapatkan beasiswa pemerintah kolonial dan wajib menjalani ikatan dinas selama sepuluh tahun. Apabila ikatan dinas tidak ditepati, hukumannya denda 5.800 gulden.
Gagasan Wahidin Soedirohoesodo Mendirikan Wadah Pendidikan Untuk Perjuangan Kemerdekaan
STOVIA adalah cikal bakal Fakultas Kedokteran UI. Melalui lembaga pendidikan ini terlahir pertama kalinya suatu pergerakan antikolonial dengan konsep perjuangan nasional melalui bidang pendidikan. Konsep ini digagas oleh alumninya yaitu dr. Wahidin Soedirohoesodo, asal Mlati, Sleman, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Setelah pensiun, dr. Wahidin di awal tahun 1900 an itu berkeliling Jawa mengunjungi tokoh-tokoh untuk mengumpulkan “studiefond” (dana beasiswa pendidikan). Salah satu donatur dan pendukung gerakan ini adalah R.A. Kartini dan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (bapak pers nasional, kakek Dewi Yull), akan tetapi secara keseluruhan upaya ini tidak membuahkan hasil cukup.
Walau cara yang ditempuh dr. Wahidin adalah dengan langsung menghadap para bupati, pada kenyataannya mereka susah pula diharapkan bantuannya.
Wahidin Soedirohoesodo Mengumpulkan Mahasiswa Stovia Mendirikan Wadah Perjuangan.
Terus mempropagandakan idenya tentang pendidikan kaum bumiputra, dr. Wahidin pada 1906 – 1907 kembali berada di Jakarta lagi mengumpulkan para mahasiswa STOVIA untuk menjelaskan detil gagasannya, lantas menyuruh mereka mendirikan organisasi sebagai wadah perjuangan pendidikan pribumi. Gagasan tersebut disambut baik begitu rupa sehingga oleh dr. Soetomo dikoordinasi lebih lanjut menjadi terbentuknya Boedi Oetama pada 20 Mei 1908, tanggal yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
“Penghabisan tahun 1907 itu datanglah tuan dokter Wahidin Soedirohoesodo ke Jakarta untuk mengaso dari perjalanannya kemana-mana guna mendirikan studiefond agar anak-anak (Indonesia yang cerdas) bisa meneruskan pelajarannya,” kata dr. Soetomo pada 1934, yang diabadikan dalam buku Kenang-kenangan Dokter Soetomo (1984:165-167) yang disunting Paul van der Veur.
Pada 1907 itu dr. Wahidin Soedirohoesodo, kakek dari Setiawan Djodi, baru saja pensiun dokter.
