
Pahlawan nasional asal Madura ini terlibat langsung dalam Perang Dunia II di medan tempur Eropa. Berpangkat Wing Commander, beliau adalah prajurit Angkatan Udara Inggris dan Kanada. Setidaknya 44 misi tempur udara telah dijalaninya terutama di wilayah-wilayah Eropa yang diduduki Jerman.
Terlahir di Sampang, Madura, dengan nama Abdul Halim Perdanakusuma pada 18 November 1922, tentara Inggris menjulukinya The Black Mascot karena jago tempur di udara, ahli memperbaiki pesawat rusak, dan sikap militannya.
Pada mulanya Halim dikirim orang tuanya bersekolah “pamong praja” di MOSVIA Magelang setelah lulus MULO (SMP) tahun 1938. Dua tahun berikutnya, 1940, Belanda diduduki Jerman, maka pemerintah Hindia Belanda menyelenggarakan wajib militer dalam rangka membentuk milisi perlawanan, dan beliau pun langsung “diciduk” untuk dijadikan tentara dan bergabung dengan Tentara Kerajaan Hinda Belanda (KNIL) sehingga sekolahnya tidak selesai.
Sebelum Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, beliau beserta seluruh staf dan siswa pendidikan telah lebih dulu dipindahkan ke Amerika Serikat. Beliau di tempat baru ini kemudian memperoleh pendidikan militernya lebih lanjut, lantas dikirim ke Angkatan Udara Inggris dan Kanada. Selama Perang Dunia II beliau bertugas di skuadron pesawat tempur Lancaster dan B-24 Liberator.
Setelah Jepang menyerah, beliau sebagai Wing Comander pesawat tempur berada di antara pasukan Angkatan Udara Inggris dan Sekutu yang pada 15 Oktober 1945 mendarat di Tanjung Priok. Saat itu beliau adalah satu-satunya tentara Inggris berkulit sawo matang. Memasuki masa revolusi, beliau sempat ditahan di Kediri karena dicurigai mata-mata. Paska pertempuran 10 November Surabaya melawan Inggris, Menteri Pertahanan Amir Syarifudin mengirim beliau kembali ke orang tuanya di Sumenep.
Tidak lama kemudian beliaupun diminta bergabung membantu Komodore Muda Udara Agustinus Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Prof Dr Abdulrachman Saleh yang sedang sibuk-sibuknya membangun Angkatan Udara Republik Indonesia.
Sebagai perwira operasi militer, beliau mendapat perintah menyusun serangan udara balasan atas peristiwa Agressi militer I Belanda. Pada dinihari 29 Juli 1947 atas persetujuan pimpinan AURI dilakukan serangan udara terhadap tiga kota yang dikuasai Belanda yaitu Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Keberhasilan atas penyerangan ini melambungkan nama AURI, sekaligus kemarahan membabi buta pihak Belanda yang selama ini selalu memandang rendah kemampuan penerbang Indonesia. Sore harinya keberhasilan tersebut dibayar mahal dengan gugurnya Adisutjipto, Abdulrahman Saleh, dan Adisoemarmo Wiryokusumo dalam peristiwa ditembaknya pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya di atas langit Maguwo Yogyakarta oleh dua pesawat pemburu Kitty Hawk Belanda. Pesawat tersebut jatuh di sekitar desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, dekat Desa Ngoto, Bantul Yogjakarta.
Beliau kemudian menggantikan posisi Adisutjipto sebagai Wakil Kepala Staf AURI.
Pada 1948 beliau dibantu Marsekal Pertama Iswahyudi ditugaskan membeli perlengkapan senjata di Thailand. Keduanya ditugaskan dengan membawa pesawat terbang multifungsi Avro Anson RI-003 yang dipenuhi dengan berbagai senjata api, yaitu karabin, bren gun, pistol dan granat tangan.
Dalam perjalanan pulang, pesawat terbang tersebut jatuh. Hingga kini tidak diketahui penyebab pastinya. Bangkai pesawat ditemukan di sebuah hutan berdekatan dengan kota Lumut, Perak, Malaysia. Jasad beliau ditemukan tim penyelamat, namun jasad Iswahyudi hilang tidak diketahui nasibnya hingga sekarang. Begitu juga dengan berbagai perlengkapan senjata api yang mereka beli di Thailand, tidak diketahui kemana rimbanya.
