
Tak banyak tokoh dalam sejarah Indonesia yang kisah hidupnya penuh lika-liku seperti Ernest François Eugène Douwes Dekker, atau lebih dikenal sebagai Dr. Danudirja Setiabudi. Lahir di Pasuruan pada 8 Oktober 1879 dari ayah berdarah Belanda dan ibu keturunan Jawa-Jerman, tokoh ini merupakan cucu-keponakan dari Multatuli, pengarang Max Havelaar yang melegenda itu.
Kakek Ernest, Jan Douwes Dekker, adalah adik Eduard Douwes Dekker alias Multatuli. Ayah Ernest bernama Henri Douwes Dekker seorang agen bank, ibunya blasteran Jawa-Jerman: Louisa Margaretha Neumann.
Karier Ernest dalam dunia pergerakan nasional dimulai ketika ia bergabung bersama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara di organisasi Budi Utomo. Namun, ketiganya tak bertahan lama karena menilai Budi Utomo terlalu elitis dan berfokus pada kalangan priyayi. Pada 6 September 1912, mereka mendirikan Indische Partij, partai politik pertama di Hindia Belanda yang terbuka untuk semua golongan.
Langkah radikal mereka menarik perhatian pemerintah kolonial. Akibatnya tahun 1913 Ernest pun ditangkap dan diasingkan ke Belanda bersama Tjipto Mangoenkoesoemo da Ki Hadjar Dewantara.
Para tokoh “Tiga Serangkai” itu pun sama-sama menjalani pengasingannya karena di “dalam negeri” dinilai gencar menebarkan ujaran kebencian terhadap rejim kolonial melalui orasi dan tulisan-tulisannya, terutama Ki Hadjar Dewantara.
Selama masa pengasingannya di Belanda, Ernest bersama Tjipto dan Ki Hadjar tetap aktif dalam perjuangan politik. Mereka menyuarakan ide-ide Indische Partij melalui propaganda politik, salah satunya dengan menerbitkan majalah De Indier. Melalui majalah ini, mereka berusaha membangkitkan kesadaran masyarakat Belanda dan warga Indonesia di Belanda mengenai kondisi di tanah jajahan, sekaligus mengkritik berbagai kebijakan Pemerintah Hindia Belanda lewat artikel-artikel tajam.
Pada masa pembuangan itu, Ernest juga memanfaatkan waktunya untuk menempuh studi doktoral di bidang ekonomi di Universitas Zürich, Swiss, namun di sana pula dirinya terlibat dengan gerakan revolusioner India yang berujung pada penangkapannya di Hong Kong dan Singapura tahun 1918.
Setelah dibebaskan dan kembali ke tanah air pada 1920, Ernest mendirikan Ksatrian Instituut di Bandung, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi tempat Ir. Soekarno mengajar sebelum mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Sekolah ini kelak berkembang menjadi SMP Negeri 1 Bandung.
Saat Perang Dunia II berkecamuk dan Belanda diserbu Jerman pada 1940, Ernest kembali ditahan. Kali ini dia dicurigai sebagai simpatisan Nazi dan kolaborator Jepang yang sudah menduduki Indochina Prancis. Ernest bahkan kemudian dituduh komunis sehingga di tahun 1941 dibuang ke Suriname, tempatnya menjalani pengasingan hingga 1946.
Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Ernest kembali ke “Indonesia” bersama Nelly Albertina Gertzema, perawat asal Belanda yang menjadi pendamping hidupnya. Tiba di Yogyakarta pada 2 Januari 1947, Ernest disambut langsung oleh Presiden Soekarno yang kemudian memberinya nama baru: Danudirja Setiabudi, artinya “banteng yang tangguh dan setia”.
Peranannya dalam pemerintahan Republik tak bisa dikesampingkan. Dia pun lantas diangkat menjadi Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir III, menjadi penasihat utama Presiden Soekarno, serta sekretaris politik bagi Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
Enrnest juga banyak berperan sebagai juru runding Indonesia dalam beberapa perundingan dengan Belanda, termasuk Perundingan Renville yang ujung-ujungnya melahirkan dua pemberontakan besar di tahun 1948 yaitu DI/TII dan Pemborantakan Madiun.
Selama di Yogyakarta Ernest juga menjadi pengajar di Akademi Ilmu Politik (AIP) Yogyakarta. Ketika setahun kemudian (1949) Universitas Gajah Mada (UGM) didirikan, jurusan-jurusan di AIP yaitu Ilmu Pemerintahan, Hubungan Internasional, dan Komunikasi diintegrasikan menjadi bagian dari yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL).
Namun, sejarah kembali berulang. Pada 21 Desember 1948 tentara Belanda menuduki Yogyakarta (Agresi Militer II) dan Ernest langsung ditangkap saat berada di Kaliurang dan dibawa ke Jakarta. Dia baru dibebaskan setelah setuju untuk tidak lagi aktif dalam dunia politik. Lagi pula kondisinya saat itu memang sudah memburuk.
Ernest Douwes Dekker wafat pada 28 Agustus 1950 dalam usia 71 tahun. Pada tahun 1961, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Setiabudi, namanya, kemudian juga diabadikan menjadi nama kecamatan di Jakarta Selatan, kawasan strategis bagian dari Segi Tiga Emas di jantung ibu kota yang kini dipenuhi gedung pencakar langit, pusat bisnis, dan berbagai fasilitas modern. Sebuah penghormatan yang layak bagi seorang tokoh perjuangannya lintas jaman, lintas ideologi, dan lintas benua.
