
Gunung emas Ertsberg ditemukan tahun 1936 oleh tiga geolog Belanda yang bekerja untuk Netherland New Guinea Petroleum Company. Bertahun-tahun temuan itu dirahasiakan Belanda, tapi akhirnya terendus juga oleh direktur CIA Allen Dulles.
Dulles terkenal hubungan dekatnya dengan bos minyak Rockefeller, dia berupaya menguasai Erstberg.
JFK tidak tahu adanya emas di Ertsberg, sementara di sisi lain JFK berhubungan erat dengan Soekarno. Untuk kepentingan penguatan hegemoninya melawan blok Soviet, JFK menekan keras Belanda untuk menyerahkan Papua ke Indonesia.
Dulles tidak ingin Papua diserahkan ke Indonesia. Sejumlah strategi dilakukan Dulles, puncaknya adalah terbunuhnya JFK tahun 1963 dan tergulingnya Soekarno. JFK diagendakan datang ke Papua tahun 1964 bersama Soekarno membahas masa depan Papua, tapi itu tidak terjadi karena JFK keburu tewas ditembak.
Lalu kenapa Soekarno digulingkan, karena kalau tidak begitu Dulles tidak akan bisa menguasai emas Erstberg.
Dua tahun setelah JFK tewas terjadilah G30S PKI, peristiwa yang berujung dengan tergulingnya Soekarno.
Serentetan peristiwa politik di Kuba 1959 membuat Freeport nyaris gulung tikar, terutama akibat nasionalisasi perusahaan asing paska tergulingnya Batista. Berulangkali Freeport mencoba membunuh Fidel Castro tapi selalu gagal.

Dalam situasi itu Forbes Wilson, direktur Freeport, ditemui Van Gruisen, salah satu dari tiga geolog penemu emas di Erstberg, menceritakan temuan itu.
Rupanya laporan Gruisen bukan isapan jempol, Wilson akhirnya datang ke Papua dan melihat dengan mata kepala sendiri gunung yang kemudian disebutnya “harta karun terbesar sepanjang masa” itu.
1 Februari 1960 Wilson atas nama Freeport menandatangani kontrak dengan perusahaan Belanda East Borneo untuk mengeksplorasi harta karun raksasa tersebut. Namun sialnya tak lama setelah itu terjadi situasi yang mirip dengan yang dialami di Kuba, hubungan Indonesia – Belanda memanas setelah Soekarno menerjunkan pasukan ke “Irian Barat”.
Dengan dibantu Dulles, Wilson lantas berupaya menyelamatkan investasinya dengan membujuk JFK untuk mendinginkan situasi Papua; ternyata situasi makin panas karena JFK malah mendukung Soekarno. JFK mengancam akan menghentikan bantuan Marshal Plan jika Belanda ngotot tidak mau menyerahkan Papua ke Soekarno. Belanda sendiri dalam situasi butuh kucuran dana segar setelah dibikin porak poranda oleh Perang Dunia II, maka Belanda pun pilih mundur dari Papua.
Mundurnya Belanda dari Papua berarti otomatis bubarnya kontrak Freeport dengan East Borneo, para petinggi Freeport pun marah-marah, marah besar ke JFK, makin marah lagi setelah JFK bilang akan segera kasih Soekarno bantuan 11 juta dollar.
Awal November 1965, sebulan setelah terbunuhnya 7 jendral loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, menanyakan, “Apakah Freeport sudah siap untuk mengekplorasi gunung emas di Irian Barat?”.
Forbes terkaget-kaget, tanpa sepengetahuannya para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia: Soeharto, Ibnu Sutowo, Julius Tahija.
Dulles menganggap pemerintahan Soekarno berbahaya dan cenderung mendukung komunisme. Sebaliknya, JFK melihat Soekarno sebagai seorang nasionalis. JFK memecat Dulles sebagai direktur CIA pada 1961 karena CIA beroperasi ilegal di Indonesia selama enam tahun, salah satunya guna mendukung PRRI/Permesta dalam kerangka mendongkel Soekarno.
LBJ, pengganti JFK, menempatkan Dulles sebagai anggota Komisi Warren yang menyelidiki kematian JFK. Dulles menyimpulkan pelaku pembunuhan JFK adalah Lee Harvey Oswald. Sikap LBJ kepada Soekarno bertolak belakang dengan JFK dan chairman of the board Freeport Augustus C Long adalah tokoh penting dibalik kesuksesan kampanye LBJ.
Greg Poulgrain, sejarawan Australia yang sempat mewawancarai salah satu geolog penemu emas di Erstberg, mencurigai justru Dulles lah kemungkinan dalang pembunuhan JFK sebab meyakini Soekarno bukan komunis dan JFK berusaha menjadi mediator konfrontasi Ganyang Malaysia – dalam laporan riset akademiknya berjudul The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F Kennedy and Allen Dulles.
Sukarno was at the centre of the conflict between John F. Kennedy and Allen Dulles (Director of Central Intelligence). With the intention of removing Sukarno from power, Dulles’ strategy of ‘regime change’ was well-advanced before Kennedy became president. Indeed, his career in intelligence had started even before Kennedy was born! In 1958, DCI Dulles was at the height of his power. He was not simply targeting the Outer Islands in Indonesia, but the entire Indonesian archipelago – including Netherlands New Guinea where the world’s largest gold deposit was located (and is today still being mined). Unlike Dulles, neither Kennedy nor Sukarno was aware of this El Dorado.
The Incubus of Intervention: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles, by Greg Poulgrain
“JFK dibunuh tahun 1963 agar tidak jadi datang ke Jakarta pada awal 1964″
“Sejak lama Dulles mengetahui kekayaan alam di Indonesia. Ketertarikannya terhadap Indonesia dimulai pada 1928 ketika dia bekerja sebagai pengacara muda yang memenangkan kasus hukum melawan Henri Deterding dari Royal Dutch Petroleum Company yang berniat membangun industri minyak di Indonesia. Dari sini dia memiliki akses untuk mengetahui tentang tambang di Hindia Belanda,” kata Poulgrain.
“Bila JFK tidak dicegah ke Jakarta untuk menjalin kerjasama dengan Soekarno, rencana Dulles menjatuhkan Soekarno bisa gagal dan posisinya akan lebih kuat. Ketika politik Indonesia memanas dan perubahan haluan menjadi pro-Barat di masa Soeharto, Freeport berhasil masuk,” kata Poulgrain.
Pada sekitar tahun 1961 Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah rakyat Indonesia. Pengalaman Freeport dipecundangi Fidel Castro menjadi penyemangat Dulles untuk pinjam tangan CIA menggulung Soekarno.
