
Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah keturunan Ken Arok (pendiri Tumapel/Singasari). Ayah Raden Wijaya (Lembu Tal) adalah cicit dari pasangan Ken Arok dan Ken Dedes. Kisah ini menurut penuturan kitab Pararaton.
Tapi siapa sejatinya Ken Arok? Tidak ada bukti-bukti eksistensi Ken Arok selain kisah tutur tinular bersumber kitab Pararaton yang hampir seratus persen isinya memuji-muji Ken Arok secara mitologis. Bahkan siapa penulis Pararaton pun tidak diketahui. Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.
Dalam kitab Nagarakretagama (1365) yang dibuat di era Hayam Wuruk (puncak kejayaan Majapahit) oleh Mpu Prapanca, tidak ada nama Ken Arok disebut-sebut. Menurut kitab ini pendiri Tumapel adalah anak dari Bhatara Girinatha yang lahir tanpa ibu pada tahun 1182. Apakah ini sama dengan figur Ken Arok yang disebut Pararaton, tidak diketahui.
Menurut lansiran Historia, sejarawan Slamet Mulyana menafsirkan jati diri Ken Arok sebagai anak hasil perbuatan tak senonoh antara Ken Endok (ibunya Ken Arok, istri Gajah Para) dan seorang Brahmana. Sedangkan menurut ahli epigrafi, Boechari, seorang Brahmana tersebut tak lain adalah Tunggul Ametung; dan perbuatan tak senonoh itu adalah pemerkosaan.
Implikasi dari kedua penafsiran tersebut adalah Ken Arok membunuh ayah kandungnya sendiri (Tunggul Ametung), kemudian mengawini ibu tirinya (Ken Dedes istri Tunggul Ametung). Ada kemungkinan keluarga Majapahit berupaya “membuang” eksistensi Ken Arok karena malu, itu sebabnya Ken Arok dan Ken Dedes tidak eksis dalam kitab Negarakretagama.
Hingga sekarang eksistensi Ken Arok dan Ken Dedes belum ditemukan dalam prasasti apa pun sebagai sumber primer. Mungkin juga Ken Arok dan Ken Dedes ini hanyalah tokoh fiktif rekaan Pararaton dalam rangka melegitimasi kemaharajaan Majapahit dari aspek “bobot bibit bebet”.
Memang terdapat berbagai versi tentang siapa ayah Ken Arok, tapi mereka sepakat pada dua perkara yaitu bahwa Gajah Para adalah suami Ken Endok, dan Ken Arok adalah anak Ken Endok tapi bukan dari perkawinannya dengan Gajah Para.
“Tokoh Ken Arok memang kontroversial. Berbagai ahli telah menelaahnya dan menuangkannya ke dalam berbagai macam karangan. Bahasannya pun tidak jauh berbeda. Mengenai tindak pemerkosaan terhadap ibunya, dan kejahatannya selama masih muda,” kata website Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
[sourcelink link=”https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/ken-aṅrok-dalam-naskah-dan-prasasti/”]
[sourcelink link=”https://sinergia.web.id/portal/blognesia/tidak-benar-masyarakat-hindu-bali-berasal-dari-pelarian-majapahit/”]
