- Oleh KRT. Agus Istijantonagoro.

Menyusuri gang-gang sempit di Kotagedhe bisa membuka lebar masa lalu yang terlupakan bagi banyak orang. Rumah Haji Rophingi di gang sempit itu menjadi saksi bisu kongres Partai Komunis Indonesia 11-14 Desember 1924. Seperti di tulis Nakamura dalam “The Crescent Arise over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town”. Rumah Haji Rophingi masih kokoh berdiri sampai hari ini. Pemerintah menjadikannya cagar budaya rumah tua. Bukan karena nilai sejarahnya. Tapi Lumayan lah.
Pada 1920-an, sebagaimana dicatat H.J. van Mook dalam monograf klasiknya, “Kuta Gede”, penduduk Kotagede terbagi dalam empat lapis golongan. Golongan pertama adalah para elite yang terdiri dari abdi dalem dan pamong praja. Lapis kedua terdiri golongan pedagang-pedagang kerajinan perak besar. Lalu ada golongan tukang perak dan pedagang-pedagang kecil. Lapis paling bawah dari masyarakat Kotagede adalah para buruh dan petani kecil yang tinggal di selatan kota (hlm. 19-21).
Para buruh perak masuk dalam SBII ( Serikat Buruh Islam Indonesia ) atau SOBSI. Tapi SBII kalah popular, Sebagian terbesar Buruh masuk SOBSI.
Mayoritas buruh perak adalah anggota SOBSI sebab organisasi ini paling gencar dalam mencari massa dan memberikan janji-janji perbaikan kesejahteraan, sementara SBII lebih populer di kalangan komunitas Muslim
Mutiah Amini, “Komunis di Kota Santri: Politik Lokal Kotagede pada 1950-1960-an” (halaman 279).
PKI dan Masyumi masing-masing memenangkan 40% suara dari 5000 pemilih di Kotagedhe dalam pemilu 1955. Selebihnya dibagi diantara PNI dan partai-partai kecil lainnya. Setelah Masyumi dibubarkan pemerintah pada 1956, PKI mendominasi Kotagedhe. PR ( pemuda Rakyat ) berlatih militer di lapangan Winong dengan peluru tajam. Lekra bergiat, lantas Muhammadiyah mengimbanginya dengan sanggar Bulus Kuning.
Pada kurun badai politik 1965 PKI jatuh. Ratusan ribu anggota PKI dan simpatisannya menjadi korban pembantaian. Di Kotagede dibentuk KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah), dikepalai oleh seorang anggota RPKAD. Meskipun begitu sama sekali tidak ada baku bunuh di Kotagede.
Dengan kata lain, sungguh menarik untuk diteliti lebih lanjut, bagaimana proses rekonsiliasi di Kotagede bisa sukses gilang gemilang.
