Rekonsiliasi konflik etnis Jawa – Sunda untuk menghapus “perang dingin” beraroma dendam sejarah telah dilakukan pada 6 Maret 2018 antara Gubernur DIY Sultan HB X dan Gubernur Jatim Soekarwo mewakili etnis Jawa di satu pihak, dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mewakili etnis Sunda di pihak lain. Dendam sejarah muncul akibat tragedi Perang Bubat lebih dari 600 tahun silam antara Kerajaan Majapahit (Jawa) VS Kerajaan Sunda.
Pemberitaan berbagai sumber mengatakan perseteruan itu begitu tampak pada nama-nama jalan di Jawa Tengah, Jawa TImur, dan DIY yang tak satu pun berbau Sunda. Begitu pula sebaliknya, jangan berharap nama berbau Kerajaan Majapahit seperti Hayam Wuruk atau Gajah Mada terdapat pada jalan-jalan di wilayah Jawa Barat.
Bahkan konon ada pesan dari orang tua Jawa jaman dulu kepada anaknya untuk tidak menikah dengan orang Sunda, begitu juga sebaliknya. Juga ada yang mengatakan orang Jawa tidak boleh beli (memiliki) tanah di wilayah Sunda, dan sebaliknya.
Ada sejarahnya kenapa perangai rasis muncul di berbagai belahan dunia. Peristiwa berlatar belakang dendam sejarah, anak cucu dibebani warisan “dosa” leluhurnya, bertebaran dalam catatan sejarah dunia. Roda dunia diputar oleh dendam sejarah.
Perang Dunia I.
Perang Dunia I misalnya, dipicu oleh balas dendam atas terbunuhnya Franz Ferdinand, putera mahkota Kekaisaran Hongaria, anak tertua Archduke Karl Ludwig dari Austria. Perang ini pada hakekatnya adalah perang saudara.
Raja Inggris (George V) berkolaborasi dengan Kaisar Rusia (Nicholas II) di satu sisi, melawan Kaisar Jerman (Wilhelm II) di sisi lain, adalah sama-sama cucu Queen Victoria Ratu Inggris (1837 – 1901).
Queen Victoria punya sembilan anak, semuanya menikah dengan bangsawan penguasa Eropa sehingga mendapat julukan “Victoria The Grandmother of Europe”.
Holocaust.
Pembunuhan terhadap belasan juta orang Yahudi dalam peristiwa holocaust juga tidak lepas dari aroma dendam sejarah. Hitler menganggap kalahnya Jerman dalam Perang Dunia I itu akibat pengkhianatan Yahudi. Hitler berpandangan kekalahan perang itu akibat intrik Yahudi di dalam dan luar negeri.
DW melaporkan, puluhan ribu Muslim berjuang untuk Nazi dalam Perang Dunia II. DW berbicara dengan sejarawan David Motadel tentang cara Adolf Hitler menjaring dukungan pemimpin Muslim.
Dengan misi “menghapus bersih Yahudi”, Hitler dengan Nazinya juga menggunakan isu Islam di wilayah berpenduduk Muslim di Balkan, Afrika Utara, dan Krimea. Propaganda Jerman di Eropa Timur, Balkan dan Afrika Utara mencoba menggunakan retorika, kosa kata, dan simbol-simbol agama untuk memobilisasi umat Islam. Mereka mempolitisir ayat suci dan doktrin agama, terutama konsep jihad untuk memicu kekerasan agama bagi tujuan politik. Untuk melemahkan Uni Soviet, Nazi Front Timur membangun kembali masjid, mushala, dan madrasah yang sebelumnya dihancurkan oleh Uni Soviet.
Pembasmian etnis Bosnia di Srebrenica .
Orang Kroasia dan orang Serbia memandang orang Bosnia sebagai antek penjajah Turki. Ketika wilayah Bosnia – Herzegovina dijajah Turki Ottoman, orang Bosnia mendapat perlakuan istimewa karena semuanya masuk Islam (mualaf). Orang Bosnia ini tadinya pemeluk sekte Borgomil, jumlahnya minoritas tapi status sosialnya elit (borju) jika dibanding Kroasia dan Serbia.
Setelah bermualaf menjadi muslim, orang Bosnia diberi kedudukan lebih tinggi oleh rejim kolonial Turki Ottoman dan diberi tugas-tugas administratif kolonial termasuk memungut pajak dari orang-orang Kroasia dan Serbia. Etnis lainnya tetap setia pada agamanya masing-masing, yaitu Kristen Katolik (Kroasia) dan Kristen Ortodoks (Serbia).
Etnis Kroasia dan Serbia lantas memandang Bosnia sebagai pengkhianat bangsa. Timbunan kebencian itu belakang hari memicu tragedi ethnic cleansing di Srebrenica pada tahun 1995 paska pecahnya Yugoslavia. Karena etnis Bosnia muslim, peristiwa itu diberitakan di Indonesia secara heboh besar-besaran sebagai “pembunuhan masal muslim Bosnia”.
