Komunis pahlawan nasional Alimin Prawirodirdjo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata
Tahukah anda, di antara makam pahlawan di Kalibata, terbaring seorang tokoh yang pernah menjadi motor pergerakan Partai Komunis Indonesia? Dialah Alimin Prawirodirdjo, seorang tokoh berpengaruh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 163 Tahun 1964 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kisah Alimin Prawirodirdjo adalah cerminan kompleksitas sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, di mana batas ideologi terkadang melebur demi satu tujuan: melawan kolonialisme.
Dari Sarekat Islam Merah hingga Pendiri Komunisme
Perjalanan ideologis Alimin bermula dari organisasi Islam perintis kemerdekaan. PKI sempalan Sarekat Islam (SI), ini bermula dari perpecahan di tubuh organisasi tersebut. Awalnya dikenal sebagai “SI Merah,” sempalan ini dipimpin oleh Haji Semaoen dan akhirnya mendirikan Perserikatan Komunis Hindia Belanda, yang pada tahun 1924 berganti nama menjadi PKI.
Alimin Prawirodirdjo sendiri adalah tokoh berpengaruh di Sarekat Islam (SI) sejak dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 1905. Ketika terjadi perpecahan, Alimin berada di kubu SI Merah bersama Tan Malaka dan Darsono, berlawanan dengan “SI Putih” pimpinan Haji Agus Salim dan tokoh lainnya yang tetap bermarkas di Yogyakarta.
Pengaruh Belanda dan Jaringan Internasional
Hidup Alimin dibentuk oleh dua “Orang Belanda” penting. Yang pertama adalah orang tua angkatnya, G.A.J. Hazeu, yang menyekolahkannya di sekolah Eropa di Batavia, membuatnya fasih berbahasa Perancis, Inggris, dan Belanda. Meskipun Hazeu berharap Alimin menjadi pegawai pemerintah, Alimin memilih jalan politik dan jurnalisme.
Orang Belanda kedua adalah Henk Sneevliet, pembawa ideologi komunis ke Hindia Belanda melalui Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Alimin Prawirodirjo terlibat dalam ISDV dan dipengaruhi oleh paham sosialis komunis yang dibawa Sneevliet.
Sebagai bagian dari jaringan Komunis Internasional (Komintern), Alimin dan Musso ditugaskan ke Moskow untuk bertemu Joseph Stalin, meminta izin melakukan pemberontakan di Hindia Belanda. Perjalanan ini juga mempertemukan Alimin dengan Tan Malaka di Manila, Ketua Komintern Timur Jauh, yang menentang rencana pemberontakan tersebut karena menilai massa belum kuat dan ekonomi kolonial stabil. Meskipun Stalin juga sependapat dengan Tan Malaka dan meminta rencana itu dibatalkan, kabar ini terlambat sampai ke tanah air.
Pemberontakan 1926 dan Pengasingan
PKI memanfaatkan kemarahan massa buruh yang marak melakukan pemogokan untuk mengorganisir aksi dan melakukan pemberontakan terhadap rejim kolonial. Pemberontakan itu akhirnya pecah pada tahun 1926, menjadikan PKI organisasi politik pertama di abad ke-20 yang melawan rejim Kolonial Hindia Belanda.
Namun, pemberontakan tersebut dihancurkan secara brutal. Ribuan orang dibunuh, ditahan, dan diasingkan, termasuk 823 kader yang dikirim ke kamp tahanan Boven Digul di Papua. Pada 1927, PKI dinyatakan terlarang dan dibubarkan oleh pemerintahan kolonial.
Alimin dan Musso, alih-alih dibuang ke Boven Digul, memilih diusir dari kawasan Hindia Belanda. Alimin kemudian sempat ke Tiongkok dan bahkan sekelas dengan Ho Chi Minh dan Zhou Enlai di Universitas Lenin Moskow. Ia juga bergabung dengan Tentara Merah di Yenan saat Jepang menginvasi China.
Komunis Pahlawan Nasional dan Upaya Rekonsiliasi PKI dan Soekarno
Setelah hampir 20 tahun di luar negeri, Alimin kembali setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan dan sempat duduk dalam Dewan Konstituante pada tahun 1946 untuk menetapkan UUD sebagai NKRI.
Usai Pemberontakan Madiun 1948, Alimin berupaya mendirikan kembali PKI di Yogyakarta pada tahun 1950. Namun, PKI wajah baru versi DN Aidit di Jakarta menjadi lebih populer. Alimin harus bergabung dengan “gerbong” Aidit, meskipun tidak diberi wewenang penting.
Alimin Prawirodirdjo meninggal dunia pada 24 Juni 1964 di Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan kepada generasi perintis jalan kemerdekaan, duet Soekarno – Hatta dan beberapa tokoh nasionalis sempat menjenguknya. Pengakuan terhadap jasa-jasanya dalam perjuangan melawan kolonialisme kemudian diwujudkan dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional.


