Ketika wilayah Bosnia Herzegovina dijajah Turki Ottoman (Kesultanan Turki Utsmaniyah) pada abad pertengahan, etnis Bosnia (penganut sekte Bogomil) mendapat perlakuan istimewa karena semua bermualaf masuk Islam, sedangkan etnis lainnya tetap setia pada agamanya masing-masing yaitu Kristen Katolik (etnis Kroasia) dan Kristen Ortodoks (etnis Serbia).
Sekte Bogomil telah muncul sejak abad 8, mendapat dukungan dari imperium Bizantium dan berkembang pesat di wilayah Bulgaria dan sekitarnya, kemudian punah di Bosnia karena semuanya beralih ke Islam ketika ditaklukkan Turki Ottoman.
Karena bersedia menjadi muslim, orang Bosnia diberi kedudukan lebih tinggi oleh rejim kolonial Turki Ottoman. Deklarasi Ottoman mengatakan barang siapa masuk Islam akan diperlakukan setara, sederajad, dengan orang Turki; kalau tidak maka akan diperlakukan sebagai lazimnya pihak yang kalah dalam peperangan.
Etnis Bosnia, setelah mualaf, menjadi tangan-tangan kanan birokrasi penjajahan Turki Ottoman, terutama dalam pemungutan pajak, sedangkan Serbia dan Kroasia diperlakukan sebagai lazimnya pihak kalah perang.
Etnis Kroasia dan etnis Serbia lantas memandang etnis Bosnia sebagai pengkhianat bangsa, timbunan kebencian inilah yang belakang hari memicu tragedi ethnic cleansing di Srebrenica pada tahun 1995 paska pecahnya Yugoslavia. Karena etnis Bosnia muslim, peristiwa itu di sini diberitakan heboh besar-besaran sebagai “Pembunuhan Masal Muslim Bosnia”.
Pelampiasan dendam terjadi di banyak tempat di seluruh dunia. Dendam terhadap kalangan yang diperlakukan istimewa oleh rejim penjajah, “dosa sejarah” diwariskan ke anak-cucu.
Perang Balkan I (1912-1913) terjadi antara Liga Balkan (Serbia, Montenegro, Yunani, dan Bulgaria) melawan rejim penjajah Turki Ottoman. Perang ini merupakan bagian pertama dari Perang Balkan di Semenanjung Balkan dan memang bertujuan merebut Makedonia yang dikuasai Turki. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Liga Balkan dengan ditandatanganinya Perjanjian London.
Ketika Turki Ottoman hengkang itulah lantas negara-negara jajahannya di Balkan satu per satu memerdekakan diri termasuk Serbia. Negara baru Serbia kemudian bermaksud mencaplok teritori Bosnia, tapi kalah dulu dengan kekaisaran Hongaria yang mencaploknya tahun 1908. Tidak terima akan hal itu, Serbia pada 1914 di Sarajevo membunuh Putera Mahkota Kekaisaran Hongaria Franz Ferdinand, anak tertua Archduke Karl Ludwig dari Austria. Pembunuhan ini tidak lama kemudian menyulut pecahnya Perang Dunia I (1914-1918) yang kembali menyeret keterlibatan Turki.
Keterlibatan Turki dalam Perang Dunia I ternyata berujung pada hancurnya imperium Ottoman itu sendiri, lantas diganti bentuknya dari kerajaan imperialistik menjadi republik demokratis melalui revolusi dipimpin oleh Gazi Mustafa Kemal Pasa (Mustafa Kemal Ataturk).
Hingga saat ini bangsa Turki sangat menghormati jasa Ataturk dan memberinya gelar Bapak Bangsa. Rakyat Turki memperingati hari wafatnya Mustafa Kemal Ataturk setiap tanggal 10 November.
Presiden Turki Tayyip Erdogan dalam peringatan itu selalu mengajak rakyat Turki meneladani perjuangan Ataturk yang telah berjuang bagi negaranya. Rakyat Turki pun melakukan hening cipta, ramai berziarah di makam Ataturk pada hari wafatnya.
“Tentu saja memperingati Ataturk itu penting, tapi memahami apa yang Ataturk perjuangkan dan alasan di baliknya lebih utama untuk diteladani,” kata Erdogan tahun lalu dikutip Daily Sabah.[ref]Daily Sabah: Türkiye remembers Atatürk on 84th anniversary of his death[/ref]
Referensi:
