Raden Wijaya pendiri Majapahit memproklamirkan dirinya sebagai penerus Dinasti Rajasa Singasari. Itu artinya dia mengaku keturunan Ken Arok dari jalur Ken Dedes. Mungkin karena itulah maka Ken Dedes kemudian disebut-sebut sebagai “baboning ratu” dalam bahasa Jawa yang artinya induk para raja.
Ken Arok sendiri adalah anak Ken Endok, tapi tidak jelas bapaknya siapa. Memang terdapat berbagai versi tentang siapa ayah Ken Arok, tapi masing-masing versi tersebut sepakat pada dua perkara yaitu bahwa Gajah Para adalah suami Ken Endok, dan Ken Arok adalah anak Ken Endok tapi bukan dari perkawinannya dengan Gajah Para.

Lalu siapa ayah Ken Arok?
Salah satu versi tutur tinular yang populer mengatakan Ken Endok diperkosa seorang Dewa Brahma hingga hamil dan lahirlah Ken Arok yang lantas dibuang di kuburan karena malu. Jadi Ken Arok menurut versi ini adalah seorang Demi God macam Hercules sang legenda Yunani. Selanjutnya bayi Ken Arok dipungut seorang perampok penjudi bernama Bango Samparan dan dibesarkan dalam lingkungan berandal. Konon Bango Samparan melihat aura tubuh mungil Ken Arok bersinar putih, pertanda mengandung darah Dewa di dalamnya.
Jadi Ken Arok hasil perkosaan Dewa? Kalaupun itu betul ya tidak apa-apa toh. Hercules kan juga hasil Zeus memperkosa Alkmene manusia biasa.
Historia melansir spekulasi Boechari bahwa perbuatan tidak senonoh itu pelakunya seorang Brahmana yang tak lain adalah Tunggul Ametung sendiri sang penguasa Tumapel. Ken Endok dan Tunggul Ametung berhubungan gelap menghasilkan Ken Arok. Jika versi ini benar maka Ken Arok membunuh ayah kandungnya lalu menikahi ibu tirinya yaitu Ken Dedes demi merebut tahta.
Eksistensi Ken Arok Historis atau Mitologis?
Kisah-kisah mengenai eksistensi Ken Arok tidak didukung bukti primer peninggalan arkeologis. Bahkan kedudukan Ken Arok sebagai pendiri dinasti tidak dicatat dalam prasasti yang dikeluarkan atas namanya saat itu. Kedudukannya sebagai peletak dasar Kerajaan Singasari hanya didukung oleh sumber epigrafi yang dikeluarkan oleh cucunya, Wisnuwardhana, dalam prasasti Mula Malurung dan prasasti Maribong. Tapi gelar Ken Arok bisa ditelusuri, yaitu Sri Rajasa. Gelar tersebut diabadikan dalam berbagai naskah, di antaranya Pararaton, Negarakṛtagama, dan Kidun Harsawijaya.
Silsilah Ringkas Majapahit Ke Atas Hingga Kekaisaran Medang
Majapahit adalah penerus Singasari (1222-1292 M). Raden Wijaya mengawini empat orang putri Kertanegara (raja terakhir Singasari) sekaligus yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.
Singasari adalah penerus Kediri (1019-1222 M). Raja Jayabaya yang terkenal dengan ramalannya itu adalah Raja Kediri ke 5. Kediri didirikan oleh Airlangga (Erlangga), sebagai pembelahan dari Kahuripan yang juga didirikan olehnya.
Kahuripan adalah penerus kekaisaran Medang Dinasti Isyana yang didirikan pada tahun 929 M oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa alias Mpu Sindok. Airlangga adalah anak raja Bali Udayana (Sri Dharmodayana Warmadewa) terlahir dari permaisurinya bernama Mahendradatta (di Bali bergelar Gunapriya Dharmapatni) yang tak lain adalah putri kaisar Medang Sri Makutawangsawarddhana. Airlangga menikah dengan putri Darmawangsa Teguh, kaisar terakhir Medang yang juga kakak Mahendradatta.
Medang Dinasti Isyana yang di Jawa Timur itu (sekitar Jombang) adalah penerus era Mataram Hindu di Jawa Tengah (732-885 M), yaitu kekaisaran Medang Dinasti Sanjaya (Rakryan Sanjaya bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) di Kalinga Selatan, sekarang wilayah administratif Yogyakarta – Kedu dan sekitarnya. Pada era Mpu Sindok kekaisaran Medang ini pindah ke Jawa Timur setelah periode pembangunan candi-candi utama yaitu Borobudur, Prambanan, Kalasan, dan Sewu. Alasan kepindahan adalah bencana dahsyat Gunung Merapi mengubur candi-candi tersebut sehingga baru ditemukan lagi beberapa ratus tahun kemudian oleh arkeolog kolonial Hindia Belanda.
