Hasan ibn Muhammad ibn Ahmad al-Wazzan al-Fasi al-Granati (Leo Africanus, 1485-1554) adalah seorang diplomat, pedagang, pengelana, dan sarjana yang terkenal karena berlayar dari Timbuktu ke Sungai Niger dan menulis ‘The History and Description of Africa’ (La Descrittione dell’Africa, 1526).
Hasan terlahir dari keluarga ulama akuntan di istana Dinasti Nasrid (1238-1492) di Granada selama hari-hari terakhir kekuasaan mereka atas Emirat Granada. Hasan berpendidikan sarjana Islam dan menjadi diplomat, bepergian ke seluruh Afrika Barat dari Kairo dan Aswan hingga Hejaz dan Suriah.
Setelah menyelesaikan studinya, Hasan menemani pamannya melakukan perjalanan diplomatik ke Gao dan Timbuktu di Afrika Barat untuk menjalin hubungan dengan para penguasa kaya dan berkuasa di Kekaisaran Songhai (sekitar tahun 1460 – sekitar tahun 1591). Setelah keberhasilan misi ini dengan pamannya, Hasan memulai misi diplomatiknya sendiri, mewakili Sultan Fez bersama dengan raja-raja lokal lainnya.
Hasan kemudian melakukan perjalanan jauh ke seluruh Afrika sub-Sahara, Mesir dan Afrika Utara, Portugal, dan Turki Ottoman, menyempurnakan keterampilannya dalam strategi militer, diplomasi politik, dan negosiasi fiskal selain menjadi seorang sarjana terpandang.
Dalam perjalanan pulangnya dari Mesir tahun 1518, Hasan ditangkap oleh bajak laut Kristen di Mediterania dan akhirnya dikirim ke Vatikan diserahkan sebagai budak kepada Paus Leo X (1498 -1526 terlahir dengan nama Giovanni de’ Medici). Paus Leo X menawarkan kebebasan kepada Hasan dengan syarat dia harus pindah agama menjadi Kristen. Umumnya nasib muslim yang menjadi tawanan Kristen adalah dijadikan budak kapal perang atau kapal perompak, tapi intelektualitas dan posisi penting Hasan membuatnya dikirim ke Vatikan.
Hasan al-Wazzan adalah seorang politikus dan diplomat cerdik. Kebencian Paus Leo X terhadap dunia Islam tentu sudah diketahuinya. Pada sisi lain Hasan paham betapa kuat ancaman kekuatan Kekaisaran Ottoman. Oleh karena itu dia segera menyadari, seperti halnya banyak orang sebelum dan sesudahnya, bahwa pindah agama adalah pilihan terbaiknya. Paus Leo X menugaskan dua uskup kepercayaannya untuk mengkatekisasi Hasan dan mendidiknya dalam liturgi Katolik. Hasan al-Wazzan lantas dibaptis dengan nama Johannes Leo Africanus (Johannes Leo de Medici), kemudian di Italia lebih dikenal sebagai Giovanni Leone. Sedangkan para sejarawan mengingatnya sebagai Leo Africanus.
Keluarga Hasan mungkin telah meninggalkan Granada sebelum tahun 1492, atau mereka mungkin saja tinggal di sana hingga Reconquista (upaya tentara Kristen merebut kembali Andalusia alias Spanyol). Hasan masih kecil ketika keluarganya, seperti banyak migran Andalusia lainnya, melarikan diri dari persekusi rejim Kristen, menyeberangi Laut Tengah untuk menetap di Fez. Untungnya keluarga Hasan memiliki koneksi kuat berkat pamannya itu, yang telah menetap di Fez sebagai diplomat bagi para penguasa Wattasid yang melayani Sultan Maroko Muhammad al-Shaykh (1490-1557).
Ada yang berpendapat bahwa Hasan pergi kembali ke Maroko, Afrika Utara, dan memeluk Islam lagi setelah peristiwa Penjarahan Roma 1527. Saat itu ketegangan antara raja-raja Kristen Eropa meningkat. Pasukan militer Jerman dan Spanyol menjarah kota-kota di sepanjang pantai Italia dan pada tanggal 6 Mei 1527 mereka telah memporak-porandakan Roma. Sementara itu tentara Ottoman telah menduduki Hongaria dan mengepung Eropa. Tidak ada bukti sejarah konkret mengenai perjalanan Hasan ke kawasan Afrika Utara, namun sebagian besar sejarawan sepakat bahwa Leo Africanus pasti telah melarikan diri ke sana pada masa-masa terjadinya kekacauan ini.
Karya-karya terjemahan Hasan dari bahasa Arab mengilhami gagasan awal tentang Afrika dan dunia Islam. Karyanya, Descrittione dell’Africa, menjadi cetak biru bagi penjelajah Eropa yang ingin memonopoli perdagangan dan sumber daya dari anak benua Afrika.
Beberapa sejarawan percaya bahwa Othello karya William Shakespeare (1564-1616) didasarkan pada Leo Africanus. Descrittione dell’Africa banyak dibaca di Eropa. Karya tersebut menjadi sumber dan buku panduan penting tentang Afrika, hingga penjajahan Eropa pada abad ke-19.
Referensi:

