Ki Ageng Giring sesepuh Mataram
Di tengah gemuruh sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam, nama Ki Ageng Giring mungkin tidak setenar Panembahan Senapati atau Sultan Agung. Namun, peran beliau jauh lebih fundamental, mengikat dinasti para raja Mataram dengan takdir spiritual yang berawal dari sebuah perjanjian legendaris.
Artikel ini akan mengupas tuntas siapa Ki Ageng Giring, hubungannya yang rumit dengan Ki Ageng Pemanahan, dan bagaimana darah beliau akhirnya mengalir dalam takhta raja-raja Mataram.
Siapa Ki Ageng Giring? Asal-Usul dan Kedudukan Spiritual
Ki Ageng Giring adalah seorang tokoh spiritual dan sesepuh yang hidup di era transisi kekuasaan dari Kesultanan Demak ke Pajang, sebelum akhirnya berdiri Mataram Islam. Beliau diyakini sebagai:
- Keturunan Bangsawan: Berasal dari garis keturunan Majapahit, diyakini sebagai keturunan Prabu Brawijaya IV.
- Murid Sunan Kalijaga: Bersama-sama dengan Ki Ageng Pemanahan, beliau adalah murid dari salah satu Wali Songo, Sunan Kalijaga, yang menunjukkan kedalaman ilmu agama dan spiritualnya.
- Tokoh Gunungkidul: Beliau menetap dan dimakamkan di daerah Giring, Sodo, Paliyan, Gunungkidul. Makamnya, khususnya makam Ki Ageng Giring III (Raden Kertonadi), hingga kini menjadi situs ziarah keramat yang dihormati oleh keluarga Keraton Mataram.
Perjanjian Takdir: Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan
Hubungan antara Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan adalah inti dari semua legenda berdirinya Dinasti Mataram. Hubungan ini diwarnai persahabatan, persaudaraan seperguruan, dan takdir yang tak terhindarkan.
1. Peristiwa Wahyu Gagak Emprit
Inti dari legenda ini adalah perebutan Wahyu Keprabon, yang dilambangkan dengan air Kelapa Muda Gagak Emprit.
- Ki Ageng Giring telah melakukan laku batin dan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan wahyu tersebut, yang diyakini akan memberikan kemuliaan kepada keturunannya sebagai penguasa Jawa.
- Sayangnya, saat Ki Ageng Giring sedang tidak di rumah, Ki Ageng Pemanahan datang dalam keadaan haus dan, tanpa mengetahui tuahnya, meminum habis air kelapa muda itu.
- Peristiwa ini memindahkan takdir kekuasaan dari garis keturunan Ki Ageng Giring kepada garis keturunan Ki Ageng Pemanahan.
2. Isi Perjanjian Mataram
Meskipun kecewa, Ki Ageng Giring pasrah pada takdir. Keduanya pun membuat perjanjian legendaris:
Kekuasaan atas Kerajaan Mataram akan dimulai dari keturunan Ki Ageng Pemanahan, namun pada generasi tertentu, takhta harus kembali kepada keturunan Ki Ageng Giring.
Menurut versi yang paling populer, perjanjian itu menyebutkan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan mendapat giliran menjadi raja setelah tujuh generasi dari Ki Ageng Pemanahan memimpin.
Peran Ki Ageng Giring dalam Pembentukan Mataram Islam
Meskipun Ki Ageng Giring tidak terlibat langsung dalam sayembara militer melawan Arya Penangsang—yang dimenangkan oleh Ki Ageng Pemanahan, Ki Panjawi, dan Sutawijaya—perannya sangat vital:
- Pemberi Legitimasi Spiritual: Beliau adalah pemilik awal wahyu yang menjadi dasar filosofis bagi kekuasaan raja-raja Mataram. Perjanjiannya menjadi semacam “kontrak takdir” yang harus dipatuhi oleh dinasti yang berkuasa.
- Penyatuan Darah: Konflik spiritual antara Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan diredam secara politik oleh Ki Juru Martani. Beliau menyarankan Sutawijaya (putra Ki Ageng Pemanahan, kelak Panembahan Senapati) untuk menikahi putri Ki Ageng Giring, yaitu Rara Lembayung (Niken Purwosari). Pernikahan ini secara efektif menyatukan dua garis darah (Giring dan Pemanahan) di awal pendirian Mataram Islam.
Hubungan Giring, Panjawi, dan Juru Martani
Hubungan antar tokoh pendiri Mataram ini sangat kompleks:
- Ki Ageng Pemanahan, Ki Panjawi, dan Ki Juru Martani adalah tiga serangkai yang terlibat langsung dalam urusan politik dan militer pendirian Mataram. Pemanahan dan Panjawi mendapat hadiah tanah, sementara Juru Martani adalah perancang siasat utama dan kemudian menjadi Patih pertama Mataram. Hubungan mereka diperkuat oleh kekerabatan.
- Ki Ageng Giring lebih memiliki hubungan yang bersifat spiritual dengan Ki Ageng Pemanahan dan dipisahkan dari pusaran politik militer Sayembara. Namun, melalui strategi Ki Juru Martani, garis darah Ki Ageng Giring akhirnya diakomodir ke dalam dinasti.
Raja Mataram Keturunan Ki Ageng Giring
Janji antara Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan baru terwujud beberapa generasi kemudian, setelah tahta melewati enam raja dari garis keturunan Ki Ageng Pemanahan.
Tokoh yang dipercaya sebagai pewaris takhta dari garis Ki Ageng Giring adalah Sri Susuhunan Paku Buwono I (Pangeran Puger), raja Mataram kedelapan. Paku Buwono I merupakan cucu dari Panembahan Senapati dari garis pernikahan dengan Rara Lembayung (putri Ki Ageng Giring). Kenaikannya ke takhta setelah menyingkirkan Amangkurat III (keturunan ketujuh Ki Ageng Pemanahan) dianggap sebagai terpenuhinya janji suci yang telah dibuat antara Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan ratusan tahun sebelumnya. Peristiwa ini menandai beralihnya Wahyu Mataram ke garis keturunan Ki Ageng Giring.
Pernikahan antara Rara Lembayung (juga dikenal sebagai Niken Purwosari, putri Ki Ageng Giring III) dan Sutawijaya (Panembahan Senapati, putra Ki Ageng Pemanahan) melahirkan keturunan yang sangat penting dalam upaya menyatukan dua garis keturunan pemegang Wahyu Mataram.
Keturunan yang paling dikenal dari pernikahan ini adalah:
1. Raden Mas Jaka Umbaran (Pangeran Puger), naik takhta sebagai raja Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwono I. Kenaikan tahta Paku Buwono I ini diyakini sebagai momen terpenuhinya janji antara Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan, di mana takhta Kerajaan Mataram akhirnya kembali ke garis keturunan Ki Ageng Giring setelah melewati tujuh generasi dari garis Ki Ageng Pemanahan.
2. Pangeran Purbaya, tokoh yang sangat dihormati dan dikenang sebagai seorang ksatria Mataram yang gagah berani. Beliau juga dikenal memiliki hubungan yang erat dengan ibunya, Kanjeng Ratu Giring (Rara Lembayung), dan dimakamkan di Wot Galeh.
Ringkasan Hubungan
Pernikahan antara Rara Lembayung dan Sutawijaya adalah strategi politik yang diatur oleh Ki Juru Martani untuk meredam konflik spiritual antara garis Giring dan Pemanahan. Tujuan utama pernikahan ini adalah untuk mengikat janji menyediakan jalur keturunan agar wahyu dapat dipenuhi di kemudian hari. Selain itu juga demi menenangkan Ki Ageng Giring, memberikan penghormatan dan pengakuan terhadap kedudukan spiritual Ki Ageng Giring sebagai pemilik sah wahyu.
Melalui keturunan mereka, khususnya Jaka Umbaran (Paku Buwono I), garis darah Ki Ageng Giring berhasil kembali mengambil alih kekuasaan (setelah Raja Amangkurat III) dan memberikan legitimasi baru bagi dinasti Mataram yang telah berpindah ke Kartasura saat itu.
